Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Manusia Itu Makhluk yang Qurrota A'yun

Manusia itu makhluk yang menyenangkan. Kita bisa menikmati berbagai ekspresi istimewa dari wajah mereka. Salah satunya kita bisa melihat saat mereka tersenyum dengan berbagai jenis senyum mereka yang menawan, ada senyum simpul, ada senyum malu-malu, ada senyuman maut, ada pula senyum-senyum sendiri.
.
Senyum-senyum sendiri ini sudara.. yang kadang sering terjadi pada sebagian dari kita. Biasanya karena mengingat-ingat kembali sebuah ekspresi dari seseorang yang kita cintai. Saya pernah dan ga jarang mengalaminya. Pernah saat saya sedang sendiri duduk melamun, kemudian berkelebat bayangan masa lalu saat saya masih kecil, masa di mana saya belum terlalu terikat dengan yang namanya etika dan moral kedewasaan, masa di mana segala sesuatu nya adalah permainan. Terus terang saya tertawa sendiri jika mengingat-ingat kembali masa itu.
.
Gimana coba saya tidak tertawa? Suatu hari di masa lalu, saat itu kami yang namanya anak laki-laki suka sekali ngebolang sepulang dari sekolah, apalagi lokasi nya di sebuah desa di pedalaman Kalimantan di mana hutan nya terkenal luas sekali, banyak hal yang bisa kami eksplorasi di lingkungan desa tempat tinggal kami.
.
Seperti biasa setiap sore kami bermain di hutan, apa saja bisa dijadikan permainan. Saat itu saya berempat dengan beberapa kawan, umur kami sepantaran semua karena memang kami teman sekelas. Sekitar jam 4 sore saat kami sudah berasa lelah bermain di hutan, ditambah badan ini penuh daki dan kotoran, kami langsung berlarian terjun dan berenang di danau tepat di tengah-tengah hutan di pinggir desa kami tersebut, danau itu mungkin luasnya sekitar 1 hektaran lah.
.
Namun seperti yang sudah-sudah, tampaknya acara renang ini pun menjadi permainan selanjutnya bagi kami berempat. begini permainannya jadi kami harus memilih satu di antara berempat yang tugas nya sebagai algojo. Algojo ini harus bisa *maaf* Be-A-Be.. (hehe). Yang bertiga yang jadi pesakitan, tugasnya harus kuat menyelam atau setidaknya gesit dalam menghindar. Karena kalau mereka tidak mempunyai 1 di antara kemampuan ini, resiko nya emas kuning nya si algojo bisa dengan mudahnya mengenai hidung di antara 3 pesakitan ini, yang tentu saja mambunee na'udzubillah.. (hehe). Permainan akan diakhiri jika salah satu dari tiga pesakitan ini terkena lemparan emas kuning dari sang algojo.
.
Saya pun tertawa ngekek sendiri jika mengingat kembali kekonyolan di masa lampau tersebut. Kawan-kawan saya itu memiliki ciri khas masing-masing yang membuat saya terkadang kangen dengan kisah klasik yang telah terlewati. Begitu banyak frame indah yang telah terukir di galeri kenangan saya.
.
Begitu lah manusia, banyak hal-hal dari mereka yang menyedapkan pandangan mata kita. Dari senyuman, candaan, tangisan, ekspresi kangen, ekspresi bahagia, ekspresi haru, semua itu jika dipandang dari berbagai perspektif, dapat menimbulkan kesan tersendiri di ruang hati ini.
.
Makanya tidak heran jika dalam sebuah acara, entah itu seminar ataupun konser. Suasana meriah dan hiruk pikuk dari para penonton dan pendengar dapat membuat sang moderator, presenter atau narasumber, atau pun penyanyi bersemangat dan termotivasi untuk membawakan atau menampilkan apa yang harus mereka tampilkan. Itu semua tentu saja salah satunya karena melihat banyaknya manusia yang bersedia menonton atau mendengarkan. Nah, itulah yang dinamakan Qurrota A'yun atau Menyedapkan pandangan mata. Bandingkan jika kita menghadiri sebuah event yang sepi penonton, rasanya gimana gitu, jangan kan sang moderator atau narasumber. Kita yang sebagai pendengar aja malu-malu kucing.
.
Rupanya perilaku manusia yang bernama Qurrota A'yun ini berlaku juga dalam hubungan antar sesama manusia di dunia medsos lho. Hehe, dan saya pun merasakan itu. Salah satu nya, di akun saya ini. Teman saya mungkin tidak seberapa dan bisa dihitung kacang lah. Tentu saja hal ini berimplikasi dengan koleksi like dan komentar di setiap status-status saya sehari-hari. Terus terang dalam sebulan, like yang saya terima paling satu atau dua jempol saja. 
.
Bandingkan dengan fanpage saya yang sehari bisa ribuan like. Terus terang saya banyak memiliki dan membuat fanpage yang kontennya inspirasi dan motivasi, sebenarnya fanpage saya tersebut biasa-biasa saja, tapi saya juga heran kok yang nge-like sampai ratusan ribu manusia, yang jika sekali posting bisa dibagikan minimal 100 kali, dan like bisa mencapai ribuan. Bahkan pernah beberapa postingan motivasi saya tersebut mencapai 16.000 like dan 18.000 kali dibagikan. Rasanya gimana gitu.. wuih..! hehe. Itu saya kasih salah satu contoh perasaan senang yang kita dapatkan dari perilaku manusia yang semakin banyak semakin menyenangkan tepat tergambar di aktivitas medsos.
.
Itulah makanya dalam Islam ada salah satu doa yang diajarkan dalam al-Quran yang juga dianjurkan untuk senantiasa kita lafalkan dalam setiap dzikir sehabis sholat, yang kurang lebih bunyinya sebagai berikut:
.
"Robbanaa.. hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa.. Qurrota A'yun.. wa ja'alnaa lil muttaqiina imaamaa.."
.
Kurang lebih artinya kita memohon kepada Allah agar dianugerahkan pasangan dan anak-anak keturunan yang sholeh dan menyedapkan pandangan mata kita.."
.
Begitu kira-kira, semoga bermanfaat buat sudara-sudara.

#Kunci_Alatthos
Share:

Air Kran Yang Terbuang


Pernah saat saya sedang berwudhu terlintas di benak saya pemikiran iseng. "Qodarullah, air yang keluar dari kran ini tidak semuanya mampu menyentuh dan mensucikan anggota wudhu ku. Tidak semuanya air ini terpilih untuk mensucikan mereka. Sebagian ada yang terpakai untuk membasuh wajahku, ada yang kebagian membersihkan rongga mulutku, ada pula yang terbuang begitu saja ke bawah dan bercampur dengan air selokan lainnya."
.

Dari air wudhu itu sayapun mencoba mengambil analogi, betapa kehidupan ini sudah begitu terstruktur dengan sempurna. Sistem sunnatullah yang sudah ada dengan sendirinya mengelompokkan jiwa-jiwa di dunia ini. Sehingga secara otomatis hati seseorang akan terkelompok sesuai dengan lebih condong kemanakah dia. Apakah lebih condong kepada kebenaran atau malah sebaliknya.
.
Jiwa yang condong pada kebenaran akan berkelompok dengan jiwa yang sama-sama condong pada kebenaran. Begitupun dengan jiwa yang condong pada kesesatan akan terkelompok dengan sendirinya. Dua-duanya menurut perspektif Islam menyandang status yang jelas yakni benar dan sesat. Istilah bekennya Muslim dan Kafir.
.
Nah, Adapula sekelompok jiwa yang remang-remang. Kelompok ini yang rada sulit ditebak, ibarat wanita dalam kondisi menstruasi, mereka senantiasa berubah-ubah dan terombang-ambing dalam ketidakjelasan status. Bimbang antara kebenaran ataukah kesesatan yang hendak mereka ikuti? Inilah jiwa orang munafik. Terkadang mereka bangga dengan keislaman nya. Namun, tak jarang di hari lain mereka bangga mengolok-olok agamanya sendiri.
.
Begitulah jiwa orang munafik, ibarat waria. Mau dibilang cowok tapi mereka lebih endhaa..ang dari pada cewek. Mau dibilang cewek tapi ototnya pada Benjol macam bantal guling. Serba salah kan jadinya? Menurut pendapat pribadi saya, jiwa-jiwa kaum munafik itu ibarat bencong-bencong agama. Itu sudah
.
Tapi, ya begitulah... Ibarat air wudhu tadi, sudah sunnatullah memang semua kelompok jiwa tersebut harus turut mengisi kehidupan di dunia ini. Baik yang Muslim, munafik maupun yang kafir. Hanya saja beda dengan air kran, kita sebagai manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih mau menjadi apa. Mau jadi seorang Muslim? Kafir? Ataukah bencong? Eh.. maksute munafik? Tentu saja, setiap pilihan memiliki konsekwensi nya masing-masing. yah, intinya segala sesuatunya kembali ke jiwa kita pribadi ya sob...
.
Oiya, berbagai peristiwa yang melanda kaum muslimin sejak kemarin dan beberapa bulan sebelumnya tampak menjadi semacam ruqyah lho...Bisa dibilang jin-jin bencong yang selama ini berbaur dengan komunitas Muslim pada kepanasan dan tanpa ragu-ragu memperlihatkan semua Batang hidungnya. Beneran lho.. kelihatan dari opini-opini nya... Tapi tenang aja sob, selama nyawa belum lepas dari raga, para bencong-bencong agama tersebut masih memiliki kesempatan kok buat kembali.. yaqin lah sung.. masih bisa balik maning
.
Share:

Prestige-nya Biaya Pendidikan Dasar Islam


Tazkirah.net 
Saya sebagai orangtua bagi anak-anak saya, sangat ingin sekali agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan garis-garis sunnah yang telah ditauladankan oleh Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Namun rupanya kondisi di sekitar sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Entah karena memang saya belum berkemampuan mencari tempat tinggal yang lebih kondusif atau mungkin memang inilah satu kesulitan jika tinggal di tengah-tengah masyarakat yang pola budaya Nahdhiyin nya terasa begitu kental.

Sebagaimana kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Artinya saya mau tidak mau harus sesigap mungkin menghindari terjadinya kles di tengah-tengah mereka. Sejenak saya mesti meletakkan karakter idealis saya terkait dengan pola bermuamalah dengan masyarakat. Artinya saya mencoba mengimplementasikan kaidah "meninggalkan maslahat demi menghindarkan mudharat yang lebih besar." 

Hal ini termasuk di dalamnya adalah memilihkan lembaga pendidikan bagi anak saya. Idealnya saya ingin anak saya yang setingkat kelas 1-3 SD ini bersekolah di Sekolah Dasar atau lembaga yang berasaskan Islam (bukan SD Negeri) dan lebih spesifiknya lagi, saya menginginkan Sekolah Dasar yang non Nahdhiyin, artinya lembaga pendidikan yang menghindari pola pendidikan berbasis Nahdhiyin yang biasanya sarat dengan ritual-ritual ijtihad kaum Nahdhiyin. Seperti sholawatan, kasidahan, marawisan dan nyanyian-nyanyian lain yang semua kebanyakan bersumber dari ijtihad kaum Nahdhiyin. 

Sebelumnya, saya mau menggarisbawahi kata sholawatan disini. Yang saya maksud sholawatan di atas adalah, kalimat-kalimat syair dan pujian gubahan beberapa penyair muslim yang dilantunkan dengan nada-nada tertentu. Bukan teks sholawat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Belakangan ini ada kesalahpahaman yang terjadi antara kaum muslimin terkait kata sholawat dan sholawatan ini. Dan hal itu terjadi hanya di Indonesia. Menurut hemat saya seharusnya tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, hanya saja reaksi yang datang dari kaum muslimin tentu saja berbeda. Tidak harus semuanya sama. Saya termasuk yang berusaha berhati-hati dalam mengikuti ijtihad yang ada. Artinya jika saya mengikuti hanya yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya itu lantaran saya hanya berusaha untuk berhati-hati. Adapun untuk kalangan Nahdhiyin yang lebih banyak bentuk ijtihadnya itu juga pilihan mereka, saya tidak ada hak untuk melarangnya, pun kaum muslimin yang lainnya. Selama dia bersyahadat dan sudah baligh dan dewasa tentu saja mereka berhak memilih mana yang terbaik menurut mereka. Adapun saya, cukuplah saya berhati-hati hanya dengan mengikuti sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, tanpa harus saya mempersalahkan mereka yang tidak sama dengan saya. 

Namun, lagi-lagi sayapun terbentur dengan tingginya biaya pendidikan yang secara kolektif distandarisasi oleh hampir rata-rata lembaga non Nahdhiyin, seperti lembaga pendidikan yang bermanhaj IM, HTI, Persis atau Muhammadiyah. Di mana lembaga pendidikan garapan mereka tersebut tampak begitu prestige bagi sebagian kalangan bawah. Termasuk saya. 

Kadang saya bertanya-tanya. Kenapa lembaga-lembaga pendidikan yang menurut saya lumayan lurus dalam mengimplementasikan sunnah Nabi tersebut terkesan menaruh tarif yang terlalu tinggi bagi saya sebagai masyarakat biasa yang pendapatannya standar 'bawah'. 

Tidak bisakah mereka 'menyaingi' lembaga pendidikan tradisional dalam hal biaya pendidikan? Seperti yang dipraktekkan oleh kalangan Nahdhiyin yang sebisa mungkin menekan biaya pendidikan sehingga kalangan bawah pun bisa menikmati pendidikan murah dan menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan Nahdhiyin tersebut. 

Termasuk saya. Lantaran ketidak-mampuan saya dalam memenuhi standar harga tinggi mereka tersebut, sehingga pupus sudah niatan saya untuk menyekolahkan anak saya di lembaga pendidikan atau institusi yang saya telah sebutkan di awal paragraf dan juga lembaga-lembaga lain yang sejenisnya. Dengan sedikit 'terpaksa' karena keterbatasan tersebut, saya harus rela anak saya ikut menghafal dan menyenandungkan 'lagu-lagu' sholawat, dan segala jenis ritual ijtihad kaum Nahdhiyin yang sangat jarang dicontohkan oleh para Sahabat dan Ulama salaf lainnya. 

Kadang saya heran, tidak bisakah lembaga pendidikan di luar Nahdhiyin memanfaatkan dana-dana BOS dari pemerintah atau yang sejenisnya? Sehingga -gap- tersebut bisa hilang atau minimal dapat meringankan standar biaya mereka? Sehingga kami-kami ini yang saat ini belum mampu menembus standar "mewah" bisa pula merasakan pendidikan mereka? Ataukah memang lembaga-lembaga tersebut lebih mementingkan materi ketimbang mendidik generasi islam untuk tetap melangkah di atas sunnah? 

Ya Allah ya Rabbi tolonglah kami ummat yang terlalu lemah ini, dengan kekuatan-Mu yang menciptakan alam semesta ini, hindarkanlah hati-hati kami atas ketergantungan pada materi dunia, condongkanlah hati para pemimpin dan pendidik kami kepada kemurnian ajaran-Mu, karena sungguh tiada yang mampu menyondongkan hati segala makhluk di dunia ini kepada millah-Mu kecuali hanya Engkau.
Share: