Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Manusia Itu Makhluk yang Qurrota A'yun

Manusia itu makhluk yang menyenangkan. Kita bisa menikmati berbagai ekspresi istimewa dari wajah mereka. Salah satunya kita bisa melihat saat mereka tersenyum dengan berbagai jenis senyum mereka yang menawan, ada senyum simpul, ada senyum malu-malu, ada senyuman maut, ada pula senyum-senyum sendiri.
.
Senyum-senyum sendiri ini sudara.. yang kadang sering terjadi pada sebagian dari kita. Biasanya karena mengingat-ingat kembali sebuah ekspresi dari seseorang yang kita cintai. Saya pernah dan ga jarang mengalaminya. Pernah saat saya sedang sendiri duduk melamun, kemudian berkelebat bayangan masa lalu saat saya masih kecil, masa di mana saya belum terlalu terikat dengan yang namanya etika dan moral kedewasaan, masa di mana segala sesuatu nya adalah permainan. Terus terang saya tertawa sendiri jika mengingat-ingat kembali masa itu.
.
Gimana coba saya tidak tertawa? Suatu hari di masa lalu, saat itu kami yang namanya anak laki-laki suka sekali ngebolang sepulang dari sekolah, apalagi lokasi nya di sebuah desa di pedalaman Kalimantan di mana hutan nya terkenal luas sekali, banyak hal yang bisa kami eksplorasi di lingkungan desa tempat tinggal kami.
.
Seperti biasa setiap sore kami bermain di hutan, apa saja bisa dijadikan permainan. Saat itu saya berempat dengan beberapa kawan, umur kami sepantaran semua karena memang kami teman sekelas. Sekitar jam 4 sore saat kami sudah berasa lelah bermain di hutan, ditambah badan ini penuh daki dan kotoran, kami langsung berlarian terjun dan berenang di danau tepat di tengah-tengah hutan di pinggir desa kami tersebut, danau itu mungkin luasnya sekitar 1 hektaran lah.
.
Namun seperti yang sudah-sudah, tampaknya acara renang ini pun menjadi permainan selanjutnya bagi kami berempat. begini permainannya jadi kami harus memilih satu di antara berempat yang tugas nya sebagai algojo. Algojo ini harus bisa *maaf* Be-A-Be.. (hehe). Yang bertiga yang jadi pesakitan, tugasnya harus kuat menyelam atau setidaknya gesit dalam menghindar. Karena kalau mereka tidak mempunyai 1 di antara kemampuan ini, resiko nya emas kuning nya si algojo bisa dengan mudahnya mengenai hidung di antara 3 pesakitan ini, yang tentu saja mambunee na'udzubillah.. (hehe). Permainan akan diakhiri jika salah satu dari tiga pesakitan ini terkena lemparan emas kuning dari sang algojo.
.
Saya pun tertawa ngekek sendiri jika mengingat kembali kekonyolan di masa lampau tersebut. Kawan-kawan saya itu memiliki ciri khas masing-masing yang membuat saya terkadang kangen dengan kisah klasik yang telah terlewati. Begitu banyak frame indah yang telah terukir di galeri kenangan saya.
.
Begitu lah manusia, banyak hal-hal dari mereka yang menyedapkan pandangan mata kita. Dari senyuman, candaan, tangisan, ekspresi kangen, ekspresi bahagia, ekspresi haru, semua itu jika dipandang dari berbagai perspektif, dapat menimbulkan kesan tersendiri di ruang hati ini.
.
Makanya tidak heran jika dalam sebuah acara, entah itu seminar ataupun konser. Suasana meriah dan hiruk pikuk dari para penonton dan pendengar dapat membuat sang moderator, presenter atau narasumber, atau pun penyanyi bersemangat dan termotivasi untuk membawakan atau menampilkan apa yang harus mereka tampilkan. Itu semua tentu saja salah satunya karena melihat banyaknya manusia yang bersedia menonton atau mendengarkan. Nah, itulah yang dinamakan Qurrota A'yun atau Menyedapkan pandangan mata. Bandingkan jika kita menghadiri sebuah event yang sepi penonton, rasanya gimana gitu, jangan kan sang moderator atau narasumber. Kita yang sebagai pendengar aja malu-malu kucing.
.
Rupanya perilaku manusia yang bernama Qurrota A'yun ini berlaku juga dalam hubungan antar sesama manusia di dunia medsos lho. Hehe, dan saya pun merasakan itu. Salah satu nya, di akun saya ini. Teman saya mungkin tidak seberapa dan bisa dihitung kacang lah. Tentu saja hal ini berimplikasi dengan koleksi like dan komentar di setiap status-status saya sehari-hari. Terus terang dalam sebulan, like yang saya terima paling satu atau dua jempol saja. 
.
Bandingkan dengan fanpage saya yang sehari bisa ribuan like. Terus terang saya banyak memiliki dan membuat fanpage yang kontennya inspirasi dan motivasi, sebenarnya fanpage saya tersebut biasa-biasa saja, tapi saya juga heran kok yang nge-like sampai ratusan ribu manusia, yang jika sekali posting bisa dibagikan minimal 100 kali, dan like bisa mencapai ribuan. Bahkan pernah beberapa postingan motivasi saya tersebut mencapai 16.000 like dan 18.000 kali dibagikan. Rasanya gimana gitu.. wuih..! hehe. Itu saya kasih salah satu contoh perasaan senang yang kita dapatkan dari perilaku manusia yang semakin banyak semakin menyenangkan tepat tergambar di aktivitas medsos.
.
Itulah makanya dalam Islam ada salah satu doa yang diajarkan dalam al-Quran yang juga dianjurkan untuk senantiasa kita lafalkan dalam setiap dzikir sehabis sholat, yang kurang lebih bunyinya sebagai berikut:
.
"Robbanaa.. hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa.. Qurrota A'yun.. wa ja'alnaa lil muttaqiina imaamaa.."
.
Kurang lebih artinya kita memohon kepada Allah agar dianugerahkan pasangan dan anak-anak keturunan yang sholeh dan menyedapkan pandangan mata kita.."
.
Begitu kira-kira, semoga bermanfaat buat sudara-sudara.

#Kunci_Alatthos
Share:

Air Kran Yang Terbuang


Pernah saat saya sedang berwudhu terlintas di benak saya pemikiran iseng. "Qodarullah, air yang keluar dari kran ini tidak semuanya mampu menyentuh dan mensucikan anggota wudhu ku. Tidak semuanya air ini terpilih untuk mensucikan mereka. Sebagian ada yang terpakai untuk membasuh wajahku, ada yang kebagian membersihkan rongga mulutku, ada pula yang terbuang begitu saja ke bawah dan bercampur dengan air selokan lainnya."
.

Dari air wudhu itu sayapun mencoba mengambil analogi, betapa kehidupan ini sudah begitu terstruktur dengan sempurna. Sistem sunnatullah yang sudah ada dengan sendirinya mengelompokkan jiwa-jiwa di dunia ini. Sehingga secara otomatis hati seseorang akan terkelompok sesuai dengan lebih condong kemanakah dia. Apakah lebih condong kepada kebenaran atau malah sebaliknya.
.
Jiwa yang condong pada kebenaran akan berkelompok dengan jiwa yang sama-sama condong pada kebenaran. Begitupun dengan jiwa yang condong pada kesesatan akan terkelompok dengan sendirinya. Dua-duanya menurut perspektif Islam menyandang status yang jelas yakni benar dan sesat. Istilah bekennya Muslim dan Kafir.
.
Nah, Adapula sekelompok jiwa yang remang-remang. Kelompok ini yang rada sulit ditebak, ibarat wanita dalam kondisi menstruasi, mereka senantiasa berubah-ubah dan terombang-ambing dalam ketidakjelasan status. Bimbang antara kebenaran ataukah kesesatan yang hendak mereka ikuti? Inilah jiwa orang munafik. Terkadang mereka bangga dengan keislaman nya. Namun, tak jarang di hari lain mereka bangga mengolok-olok agamanya sendiri.
.
Begitulah jiwa orang munafik, ibarat waria. Mau dibilang cowok tapi mereka lebih endhaa..ang dari pada cewek. Mau dibilang cewek tapi ototnya pada Benjol macam bantal guling. Serba salah kan jadinya? Menurut pendapat pribadi saya, jiwa-jiwa kaum munafik itu ibarat bencong-bencong agama. Itu sudah
.
Tapi, ya begitulah... Ibarat air wudhu tadi, sudah sunnatullah memang semua kelompok jiwa tersebut harus turut mengisi kehidupan di dunia ini. Baik yang Muslim, munafik maupun yang kafir. Hanya saja beda dengan air kran, kita sebagai manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih mau menjadi apa. Mau jadi seorang Muslim? Kafir? Ataukah bencong? Eh.. maksute munafik? Tentu saja, setiap pilihan memiliki konsekwensi nya masing-masing. yah, intinya segala sesuatunya kembali ke jiwa kita pribadi ya sob...
.
Oiya, berbagai peristiwa yang melanda kaum muslimin sejak kemarin dan beberapa bulan sebelumnya tampak menjadi semacam ruqyah lho...Bisa dibilang jin-jin bencong yang selama ini berbaur dengan komunitas Muslim pada kepanasan dan tanpa ragu-ragu memperlihatkan semua Batang hidungnya. Beneran lho.. kelihatan dari opini-opini nya... Tapi tenang aja sob, selama nyawa belum lepas dari raga, para bencong-bencong agama tersebut masih memiliki kesempatan kok buat kembali.. yaqin lah sung.. masih bisa balik maning
.
Share:

Prestige-nya Biaya Pendidikan Dasar Islam


Tazkirah.net 
Saya sebagai orangtua bagi anak-anak saya, sangat ingin sekali agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan garis-garis sunnah yang telah ditauladankan oleh Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Namun rupanya kondisi di sekitar sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Entah karena memang saya belum berkemampuan mencari tempat tinggal yang lebih kondusif atau mungkin memang inilah satu kesulitan jika tinggal di tengah-tengah masyarakat yang pola budaya Nahdhiyin nya terasa begitu kental.

Sebagaimana kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Artinya saya mau tidak mau harus sesigap mungkin menghindari terjadinya kles di tengah-tengah mereka. Sejenak saya mesti meletakkan karakter idealis saya terkait dengan pola bermuamalah dengan masyarakat. Artinya saya mencoba mengimplementasikan kaidah "meninggalkan maslahat demi menghindarkan mudharat yang lebih besar." 

Hal ini termasuk di dalamnya adalah memilihkan lembaga pendidikan bagi anak saya. Idealnya saya ingin anak saya yang setingkat kelas 1-3 SD ini bersekolah di Sekolah Dasar atau lembaga yang berasaskan Islam (bukan SD Negeri) dan lebih spesifiknya lagi, saya menginginkan Sekolah Dasar yang non Nahdhiyin, artinya lembaga pendidikan yang menghindari pola pendidikan berbasis Nahdhiyin yang biasanya sarat dengan ritual-ritual ijtihad kaum Nahdhiyin. Seperti sholawatan, kasidahan, marawisan dan nyanyian-nyanyian lain yang semua kebanyakan bersumber dari ijtihad kaum Nahdhiyin. 

Sebelumnya, saya mau menggarisbawahi kata sholawatan disini. Yang saya maksud sholawatan di atas adalah, kalimat-kalimat syair dan pujian gubahan beberapa penyair muslim yang dilantunkan dengan nada-nada tertentu. Bukan teks sholawat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Belakangan ini ada kesalahpahaman yang terjadi antara kaum muslimin terkait kata sholawat dan sholawatan ini. Dan hal itu terjadi hanya di Indonesia. Menurut hemat saya seharusnya tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, hanya saja reaksi yang datang dari kaum muslimin tentu saja berbeda. Tidak harus semuanya sama. Saya termasuk yang berusaha berhati-hati dalam mengikuti ijtihad yang ada. Artinya jika saya mengikuti hanya yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya itu lantaran saya hanya berusaha untuk berhati-hati. Adapun untuk kalangan Nahdhiyin yang lebih banyak bentuk ijtihadnya itu juga pilihan mereka, saya tidak ada hak untuk melarangnya, pun kaum muslimin yang lainnya. Selama dia bersyahadat dan sudah baligh dan dewasa tentu saja mereka berhak memilih mana yang terbaik menurut mereka. Adapun saya, cukuplah saya berhati-hati hanya dengan mengikuti sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, tanpa harus saya mempersalahkan mereka yang tidak sama dengan saya. 

Namun, lagi-lagi sayapun terbentur dengan tingginya biaya pendidikan yang secara kolektif distandarisasi oleh hampir rata-rata lembaga non Nahdhiyin, seperti lembaga pendidikan yang bermanhaj IM, HTI, Persis atau Muhammadiyah. Di mana lembaga pendidikan garapan mereka tersebut tampak begitu prestige bagi sebagian kalangan bawah. Termasuk saya. 

Kadang saya bertanya-tanya. Kenapa lembaga-lembaga pendidikan yang menurut saya lumayan lurus dalam mengimplementasikan sunnah Nabi tersebut terkesan menaruh tarif yang terlalu tinggi bagi saya sebagai masyarakat biasa yang pendapatannya standar 'bawah'. 

Tidak bisakah mereka 'menyaingi' lembaga pendidikan tradisional dalam hal biaya pendidikan? Seperti yang dipraktekkan oleh kalangan Nahdhiyin yang sebisa mungkin menekan biaya pendidikan sehingga kalangan bawah pun bisa menikmati pendidikan murah dan menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan Nahdhiyin tersebut. 

Termasuk saya. Lantaran ketidak-mampuan saya dalam memenuhi standar harga tinggi mereka tersebut, sehingga pupus sudah niatan saya untuk menyekolahkan anak saya di lembaga pendidikan atau institusi yang saya telah sebutkan di awal paragraf dan juga lembaga-lembaga lain yang sejenisnya. Dengan sedikit 'terpaksa' karena keterbatasan tersebut, saya harus rela anak saya ikut menghafal dan menyenandungkan 'lagu-lagu' sholawat, dan segala jenis ritual ijtihad kaum Nahdhiyin yang sangat jarang dicontohkan oleh para Sahabat dan Ulama salaf lainnya. 

Kadang saya heran, tidak bisakah lembaga pendidikan di luar Nahdhiyin memanfaatkan dana-dana BOS dari pemerintah atau yang sejenisnya? Sehingga -gap- tersebut bisa hilang atau minimal dapat meringankan standar biaya mereka? Sehingga kami-kami ini yang saat ini belum mampu menembus standar "mewah" bisa pula merasakan pendidikan mereka? Ataukah memang lembaga-lembaga tersebut lebih mementingkan materi ketimbang mendidik generasi islam untuk tetap melangkah di atas sunnah? 

Ya Allah ya Rabbi tolonglah kami ummat yang terlalu lemah ini, dengan kekuatan-Mu yang menciptakan alam semesta ini, hindarkanlah hati-hati kami atas ketergantungan pada materi dunia, condongkanlah hati para pemimpin dan pendidik kami kepada kemurnian ajaran-Mu, karena sungguh tiada yang mampu menyondongkan hati segala makhluk di dunia ini kepada millah-Mu kecuali hanya Engkau.
Share:

Habis Mengusir, Kemudian Mengundang Jin

"Hahaha.." Imran tertawa sendiri memperhatikan pengajian yang sedang diadakan di kediaman bapak Purun yang letaknya beberapa rumah dari rumah kediaman Lukman teman pondoknya Imran.

"Kenapa mran? Ente liat lagi?" Tanya Lukman.
"Iya luk. Politiknya para jin ni emang top dah." Jawab Imran. "Tadi sewaktu pengajian dimulai ane liat dedemit pada berlompatan lari menjauhi tu majlis." Sambungnya lagi
.
Lukman hanya terkekeh, karena memang dia tidak dapat melihat apa-apa. Namun Imran memang sejak di pondok sudah dikenal di seantero pondok dengan kemampuannya yang katanya dapat melihat bangsa jin. Tapi iapun tidak pernah melakukan apa-apa ketika melihat makhluk-makhluk astral tersebut. "Sesekali kaget memang luk. Tapi lama-lama juga terbiasa." Terangnya pada Lukman suatu hari.
.
"Ente ga kepikiran dakwah ke mereka mran? Suatu hari teman pondok yang lain bertanya iseng.
.
"Ngga lah, menurut Ust. Syukri, bukan wewenang manusia berdakwah dengan Jin. Karena dari bangsa merekapun sudah ada kaum muslimin yang tugasnya mendakwahkan Islam sebagaimana bangsa kita." Jawab Imran.
.
Kembali ke rumahnya Lukman. Malam itu Imran bertandang silaturahmi ke rumah teman sekamarnya Lukman. Sudah lama mereka memang tidak bertemu semenjak angkatan mereka tamat dari pondok yang terletak di kaki gunung merbabu Salatiga itu. Imran menurut kabar yang didengar oleh Lukman, melanjutkan studi di LIPIA Jakarta. Sedang Lukman membantu pamannya mengurus peternakan di Bogor, sambil mengisi kegiatan pengajian di sekitar kampungnya tersebut.
.
"Giliran majlis yasin dan tahlil kelar, mereka pada nongol lagi tu mendekat." Ujar Imran.
.
"Mungkin karena kepulan asap rokok itu kali ya yang menarik mereka untuk mendekat kembali?" Tebak Lukman sambil memandang majlis taklim di rumah Pak Purun, Lukman mengerjap-ngerjapkan matanya.
.
"Bisa jadi luk. tu dedemit ane liat memang seperti menghirup-hirup kepulan asap rokok para jama'ah. Keliatan Majelis Yasinan ama Tahlilan nih, habis ngusir para Jin terus diundang lagi buat dijamu asap rokok.. hehe.. lucu" Jawab Imran.



"Kenapa ane bilang begitu? Ente harus tahu luk, sedari zaman dahulu tu, rokok atau menyan itu jadi makanan khas yang disajenkan sama sepuh-sepuh agama kejawen. Jadi bagi masyarakat jin wilayah indonesia nih, rokok termasuk makanan lezat bagi mereka. Makanya ane simpulkan begitu, habis mereka mengusir para jin dengan doa-doa tahlil, eh.. mereka mengundangnya kembali dengan menyuguhkan asap rokok. ya Allah.." Tambah Imran.
.
"Memang betul sudah Allah memerintahkan agar kita senantiasa berdoa sebelum melakukan setiap kegiatan luk. Mereka dimana-mana ada. Seperti hendak menyentuh kita." Lanjut Imran.
.
"Beruntung ente kaga melihat mereka." Tambahnya lagi. Lukman mengangguk-angguk
Share:

Trik Hacking Hafalan Al-Quran Kilat Bagi Orang Dewasa

Pernah tidak sebagai orang tua terlintas dalam benak anda semua untuk kembali menambah hafalan Al-Quran yang sudah bertahun-tahun tidak lagi digeluti bahkan terlupakan? Sudah pasti pernah ya saudaraku.

Kata sebuah pepatah yang sering saya dengar waktu masih ingusan. (Sekarang pun sebenarnya saya juga sering "ingusan"). He

.
"Belajar selagi kanak-kanak bagaikan mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagaikan mengukir di atas air."
.
Saat itu, tentu saja otak saya belum bisa mencerna dengan benar maksud dari pepatah di atas itu apa. Bagaimana mungkin mengukir di atas air? Pahat yang dibutuhkan pahat macam apa yang bisa mengukir air? Sungguh terlalu orang dewasa ini. Rutuk saya saat itu.
.
Namun kini sayapun akhirnya paham seiring dengan bertambahnya usia. Sayapun memahami alasan sehingga terciptanya pepatah tersebut. Orang dewasa itu sebagian besar memahami informasi hanya untuk sekedar tahu, bukan untuk dihafalkan. Syukur-syukur jika pas lagi dibutuhkan masih ingat. Hehe.
.
Beberapa faktor yang ditengarai sebagai penyebab susahnya orang dewasa menghafal adalah karena mereka mengarahkan kemampuan otaknya lebih prioritas kepada hal-hal yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Tentu saja hal ini menyebabkan hal lain yang di luar rutinitas kerja dinomorduakan. Bukan generalisir, tapi memang sebagian besar faktanya seperti itu.
.
Termasuk dalam menghafal al-Qur'an. Mungkin tidak semua orang dewasa bisa menyempatkan waktu menambah hafalan qur'annya secara rutin. Padahal kita pun mungkin secara garis besar sudah tahu bahwa: salah satu penolong kita di alam kubur kelak, yang menemani dan menerangi kubur kita itu adalah al-Quran yang kita bermanja-manja dengannya sewaktu di dunia.
.
Nah, saya termasuk sosok yang agak sulit menghafal Qur'an. Mau gimana lagi, otak yang Allah berikan ini memang terlalu sibuk dalam berfikir, sehingga sangat sulit sekali untuk fokus, terlalu banyak protes, aksi, demo. Memikirkan satu masalah yang sebenarnya tak terlalu penting dan berbagai curious sehingga sebagian besar informasi yang datang terlalu tergesa-gesa untuk pergi menghilang. Hehe. That's okay.
.
Namun tentu saja, sesuatu yang baik untuk diri ini harus saya paksakan, dengan harapan kelak menjadi budaya yang baik dan berguna minimal bagi diri saya sendiri.
.
Ok, lanjut. Salah satu teknik yang bisa membantu saya menambah hafalan Quran adalah listening. Di mana teknik ini fokus mengandalkan indera pendengaran. Alhamdulillah, saat ini kita begitu dimudahkan dengan berbagai macam fasilitas teknologi, salah satunya adalah smartphone. Saya menginstall aplikasi Qur'an yang memiliki fitur murottal beberapa syaikh penghafal Qur'an terkenal semisal Syaikh Al-Ghomidi, Syaikh Al-Mathrud dll. Hal itu jelas sangat memudahkan saya. Kemudian ada fitur dimana saya bisa memainkan ayat tertentu dari sebuah Surah dari al-Qur'an dengan cara di'loop', ini mungkin adalah metode yang diistilahkan sebagai teknik muroja'ah alias mengulang-ulang.
.
Mungkin sebagian orang jika berangkat kerja mengendarai motor atau mobil mengisi waktu dengan memutar puisi-puisi indah kehidupan yang berbaris di playlist mereka, pun saya melakukannnya pula. hanya saja dengan me-loop-ing sebuah ayat yang hendak saya tanamkan di otak saya.
.
Hasilnya alhamdulillah, meskipun tetap saja tiada gading yang tak retak, sama halnya dengan otak saya, ada sedikit keretakan di sana sini dalam proses penanaman ayat-ayat suci al-Qur'an ini. Namun saya yakin, ciptaan Allah satu ini -otak- sangat luar biasa sekali kemampuannya. Saya yakin itu. Meskipun saya juga sadar, ungkapan pepatah yang saya kutip di awal paragraf tadi memang ada benarnya.
.
Tapi saya yakin untuk hal sebaik ini rasanya sayang jika saya tidak memaksa otak saya untuk terbiasa melakukannya. Karena sebagaimana kawan-kawan pahami bahwa kematian itu adalah hal yang paling dekat jaraknya dengan kita. Kan ga lucu pas saya lagi naik motor, tiba-tiba dari arah belakang saya dilindes truk tronton, badan saya hancur tapi smartphone saya selamat.. celakanya smartphone saya begitu didengarkan lagi memutar lagunya Ayu Ting ting yang masih bingung dengan alamat suaminya? he
Share:

Obrolan santai Muh - Wanita Cantik

"Assalamu'alaikum.. Whe..ii, bro, kef haalek ustad?" Ali, menyapa tiba-tiba. Muh yg sdang fokus mengerjakan ketikan di depan komputer nampak terkejut namun kmudian tersenyum. "MasyaAllah Ali, kmana aja ente fren? Lama banget ga tampak batang gigi ente.. Haha" canda Muh, "Haha..ha" Ali tertawa lepas. Mereka berdua bersalaman dan saling merangkul. Muh menepuk-nepuk pundak Ali. "MasyaAllah, sobatku ini, silahkan-silahkan.. Duduk sob.." Muh mempersilahkan Ali duduk. "syukron2.." Jawab Ali.

"Nt dimana skarang li? Nomer hape nt ane hubungi ga pernah aktif jeh.." kata Muh. "Iya nih muh, maaf banget. Soale hp ane brpindah tangan. Ane skarang di Surabaya, dagang.." jelas Ali. "MasyaAllah, pengusaha trnyata bliau nih. Luar biasa, emang nt dagang apa li?" tanya Muh, "Ah, biasa aja Muh, ane dagang kecil2an, coba buka warung kopi. Ya alhamdulillah, dikit2 bisa nabung buat masa depan" jelas Ali. "Alhamdulillah, amin" Muh mengamini. "Iya li, orang2 sperti qta nih memang untuk memulai usaha harus lbih tekun ya akh? Soale lbih dibutuhkan modal mental ktimbang modal dana. Walaupun memang sih modal dana ga bisa dikesampingkan begitu saja. Ya ngga?" jelas Muh, Ali mengangguk.

"Ente gimana Muh? Tampaknya bisnis makin lancar aja? He2" Tanya Ali. "Alhamdulillah li, sama sperti nt, bisa nabunglah walaupun hanya sdikit2 aja, trutama persiapan buat mencari muslimah yg sholehah dan cakep li" jawab Muh. "Nah itu die maksud ane Muh, masa depan. He2" Ali angkat bicara.

"He2, ente masih bau kencur dah ngomongin akhwat ajeh li" canda Muh. "He2, nt dah cukup umur malah masih malu2 gitu ngebicarain akhwat" balas Ali ke Muh. "haha.." mereka berdua ngakak berbarengan.

"Iya nih li.. Li, aslinya mnurut pendapat ente wanita cantik tu yg kayak gimana sih?" Tanya Muh slanjutnya. "Wah, klo ane ditanya karakter wanita cakep versi ane" Ali diam sjenak, kmudian melanjutkan kata2nya. "yg pertama, pasti sholehah. Ane beralasan, wanita yg sholeh paham trhadap aturan Tuhannya, jadi jika Tuhannya memerintahkan agar ia menghormati dan ta'at pada suami maka ia melakukannya. Trus jika Tuhannya menyuruh untuk menjaga kehormatan suami, maka dia akan menjaganya. Ini kriteria ane banget Muh.." Ali terdiam sjenak menarik nafasnya, Muh trsenyum. "Selebihnya, nasabnya bagus Muh, cantik. Tentunya, he2" lanjut Ali sambil terkekeh. "Siapa sih yg ga mau yg cantik li, he2 klo itu mah ane juga mau..he2" Muh menimpali. "Tapi gampang Muh, klo ntar wajah kurang memadai, pakein cadar aja, kan yg penting hatinya cakep He2.." canda Ali, "hush! Ente, ntar didengar ma yg diatas noh," tegur Muh. "Bcanda Muh, bcanda.." jawab Ali

"Eh, iya ngomong2 ente lambung dah demo lum li? Qta makan bakso dulu yuk?" Muh menawarkan kepada Ali. "Oh, boleh Muh, nampaknya lambung ane udah ga bisa fokus lagi nih. Ngusek mulu dari tadi" jawab Ali mengiyakan tawaran Muh

"Klo ciri khas akhwat yg ane idamkan li.." lanjut Muh di sela-sela mengunyah bakso pak jambu. "..selain ciri2 yg tadi ente sebutkan yaitu, mau menjadi istri dan pendamping ane seutuhnya, maksud ane bgini, ketika ane kluar mencari nafkah. Ia siap menjadi pendamping bagi anak-anak ane kelak, merawat, membimbing dan menjadi madrasah bagi anak-anak ane untuk blajar tentang akhlak dan moral dasar bagi mereka, sehingga kelak kbutuhan anak ane akan akhlak dapat trpenuhi insyaAllah.." Muh memasukkan 1 pentol bakso ke mulut dan mengunyahnya sambil matanya menerawang ke jalan di dpan rentalnya. Ia tampak memperhatikan lalu lalang orang di jalan tersebut. Sedang Ali tampaknya kepedesan sehingga mulutnya berhuhah ria, keringat tampak mengucur dari dahi dan lehernya, ia menyeruput es jeruk yg tadi turut dipesannya. "subhanallah..nikmatnya.." gumam Ali, Muh tersenyum mendengarnya sambil melanjutkan makannya.

"Yang pastinya li.." Muh melanjutkan. "Hidup ini kan indah jika muslimah sholehah ada di sisi kita. Ok?" lanjut Muh menyelesaikan penuturanya.

Mereka berdua menyelesaikan urusan perut mereka, kmudian bergegas ke musholla karena azan dzuhur dah bersenandung. Sesekali mereka bercakap dalam perjalanan ke musholla tersebut.

Perlahan point of view dari frame cerita ini mengarah ke langit biru menembus gumpalan awan, melewati atmosfir, hingga melewati ruang hampa. Tampak bebintang bercahaya terlewati, smakin lama smakin melaju meninggalkan bumi yg tampak smakin mengecil, melaju hingga ke bawah arsy tempat para penghuni kahyangan bersujud di hadapan Rabb Al Alam.

Yang pasti, setiap lelaki muslim yg sungguh2 mengerti akan status kemuslimannya, pasti mengidam-idamkan sosok muslimah yg sadar akan kodratnya sebagai wanita. Kodrat untuk menjadi sosok pendidik bagi anak2nya, untuk mendidik sang anak agar menjadi sosok manusia yg sholeh dan bermoral mulia. Bukan sosok wanita yg salah kaprah dalam mengartikan istilah kesetaraan yg ujung2nya hanya melalaikan kodratnya sebagai wanita sebagai sosok pendidik, sehingga menjerumuskan generasi pelanjut ke dalam jurang gelap gulita..
Share:

Obrolan Santai Muh - Taqdir

"Oh, kalo menurut yang ane baca dan pahami, sesungguhnya takdir itu adalah segala apapun di dunia ini, baik yang samar, ataupun yang jelas. Yang dulu telah berlalu, masa kini ataupun masa depan yang masih belum pasti. Masuk dalam kategori takdir." Muh menjelaskan ke Andri dengan nada intonasi sedikit ditinggikan.

"Iya muh, ane paham maksud ente, cuma maksud ane begini loh.." Andri memutus kalimatnya, ia nampak seperti sedang memutar otaknya, mungkin mencoba memilih kata yang tepat buat menjelaskan apa yang dia pahami seputar takdir kepada Muh. Muh menatap Andri berusaha membaca jalan pikirannya.

"Gini lho Muh..., ane membedakan antara takdir dan sunnatullah". Sambung Andri. "Iya.. iya, ane paham Ndri. Trus maksud ente beda antara takdir dan sunnatullah tu gimana? Emangnya beda ya? Kesimpulan itu ente menggunakan pendekatan apa? Dasarnya apa? Maa daliil man?" Muh bertanya tegas ke Andri, nampak dengan mimik alis sedikit ditarik ke atas, mungkin buat menegaskan pertanyaannya.

Andri nampak tersentak sedikit."Weh, Muh segitunya". Gumamnya dalam hati. Trus dia terkekeh-kekeh sambil menatap Muh. "Ah, ente Muh, serius amat, kuling daon man.. kuling daon, ga segitunya kali Muh." Muh tersenyum.

"Masalah pemahaman seperti ini masalah serius Ndri, ente ga bisa asal menyimpulkan aja, coz takdir itu termasuk rukun iman." Ujar Muh, "artinya pondasi dasar sob, ente ga boleh memahaminya asal hantam kromo." Sambung Muh lagi. "Lah, itu die Muh... ane ga asal hantam kromo, ada proses dan variabelnya man..." Jawab Andri.

"Lantas, ente berdalil atas dasar apa? Tanya Muh, "oke, gini aja deh... Tentang takdir dan sunnatullah, ane pengen dengar langsung dari ente dalilnya." Lanjut Muh dengan nada sedikit ditegaskan.

Andri terdiam sesaat sambil memandang Muh yang nampak menunggu jawaban darinya. "Gini aja Muh, berhubung ane kurang begitu hafal detil dalil alQur'an maupun hadits, ane hanya bisa mengambil analogi dan fakta aja deh sebagai contoh. Ente mau denger ga?" Ujar Andri.

Muh nampak sedang berfikir. Namun sesaat kemudian ia berujar. "Boleh deh, tapi yang rasional ya? Artinya, secara akal fikiran keterima, secara islam juga ada tuntunan." Ujarnya sambil tersenyum. "Woke man, oke.. pasti rasional." Balas Andri.

"Gini Muh, ente lihat kan awan di sana?" Andri menunjuk seonggok awan putih yang berarak di langit biru. "Sip. Ane lihat" Jawab Muh, "sekarang coba ente lihat awan yang di bagian timur sana..
Share: