Manusia Itu Makhluk yang Qurrota A'yun

Manusia itu makhluk yang menyenangkan. Kita bisa menikmati berbagai ekspresi istimewa dari wajah mereka. Salah satunya kita bisa melihat saat mereka tersenyum dengan berbagai jenis senyum mereka yang menawan, ada senyum simpul, ada senyum malu-malu, ada senyuman maut, ada pula senyum-senyum sendiri.
.
Senyum-senyum sendiri ini sudara.. yang kadang sering terjadi pada sebagian dari kita. Biasanya karena mengingat-ingat kembali sebuah ekspresi dari seseorang yang kita cintai. Saya pernah dan ga jarang mengalaminya. Pernah saat saya sedang sendiri duduk melamun, kemudian berkelebat bayangan masa lalu saat saya masih kecil, masa di mana saya belum terlalu terikat dengan yang namanya etika dan moral kedewasaan, masa di mana segala sesuatu nya adalah permainan. Terus terang saya tertawa sendiri jika mengingat-ingat kembali masa itu.
.
Gimana coba saya tidak tertawa? Suatu hari di masa lalu, saat itu kami yang namanya anak laki-laki suka sekali ngebolang sepulang dari sekolah, apalagi lokasi nya di sebuah desa di pedalaman Kalimantan di mana hutan nya terkenal luas sekali, banyak hal yang bisa kami eksplorasi di lingkungan desa tempat tinggal kami.
.
Seperti biasa setiap sore kami bermain di hutan, apa saja bisa dijadikan permainan. Saat itu saya berempat dengan beberapa kawan, umur kami sepantaran semua karena memang kami teman sekelas. Sekitar jam 4 sore saat kami sudah berasa lelah bermain di hutan, ditambah badan ini penuh daki dan kotoran, kami langsung berlarian terjun dan berenang di danau tepat di tengah-tengah hutan di pinggir desa kami tersebut, danau itu mungkin luasnya sekitar 1 hektaran lah.
.
Namun seperti yang sudah-sudah, tampaknya acara renang ini pun menjadi permainan selanjutnya bagi kami berempat. begini permainannya jadi kami harus memilih satu di antara berempat yang tugas nya sebagai algojo. Algojo ini harus bisa *maaf* Be-A-Be.. (hehe). Yang bertiga yang jadi pesakitan, tugasnya harus kuat menyelam atau setidaknya gesit dalam menghindar. Karena kalau mereka tidak mempunyai 1 di antara kemampuan ini, resiko nya emas kuning nya si algojo bisa dengan mudahnya mengenai hidung di antara 3 pesakitan ini, yang tentu saja mambunee na'udzubillah.. (hehe). Permainan akan diakhiri jika salah satu dari tiga pesakitan ini terkena lemparan emas kuning dari sang algojo.
.
Saya pun tertawa ngekek sendiri jika mengingat kembali kekonyolan di masa lampau tersebut. Kawan-kawan saya itu memiliki ciri khas masing-masing yang membuat saya terkadang kangen dengan kisah klasik yang telah terlewati. Begitu banyak frame indah yang telah terukir di galeri kenangan saya.
.
Begitu lah manusia, banyak hal-hal dari mereka yang menyedapkan pandangan mata kita. Dari senyuman, candaan, tangisan, ekspresi kangen, ekspresi bahagia, ekspresi haru, semua itu jika dipandang dari berbagai perspektif, dapat menimbulkan kesan tersendiri di ruang hati ini.
.
Makanya tidak heran jika dalam sebuah acara, entah itu seminar ataupun konser. Suasana meriah dan hiruk pikuk dari para penonton dan pendengar dapat membuat sang moderator, presenter atau narasumber, atau pun penyanyi bersemangat dan termotivasi untuk membawakan atau menampilkan apa yang harus mereka tampilkan. Itu semua tentu saja salah satunya karena melihat banyaknya manusia yang bersedia menonton atau mendengarkan. Nah, itulah yang dinamakan Qurrota A'yun atau Menyedapkan pandangan mata. Bandingkan jika kita menghadiri sebuah event yang sepi penonton, rasanya gimana gitu, jangan kan sang moderator atau narasumber. Kita yang sebagai pendengar aja malu-malu kucing.
.
Rupanya perilaku manusia yang bernama Qurrota A'yun ini berlaku juga dalam hubungan antar sesama manusia di dunia medsos lho. Hehe, dan saya pun merasakan itu. Salah satu nya, di akun saya ini. Teman saya mungkin tidak seberapa dan bisa dihitung kacang lah. Tentu saja hal ini berimplikasi dengan koleksi like dan komentar di setiap status-status saya sehari-hari. Terus terang dalam sebulan, like yang saya terima paling satu atau dua jempol saja. 
.
Bandingkan dengan fanpage saya yang sehari bisa ribuan like. Terus terang saya banyak memiliki dan membuat fanpage yang kontennya inspirasi dan motivasi, sebenarnya fanpage saya tersebut biasa-biasa saja, tapi saya juga heran kok yang nge-like sampai ratusan ribu manusia, yang jika sekali posting bisa dibagikan minimal 100 kali, dan like bisa mencapai ribuan. Bahkan pernah beberapa postingan motivasi saya tersebut mencapai 16.000 like dan 18.000 kali dibagikan. Rasanya gimana gitu.. wuih..! hehe. Itu saya kasih salah satu contoh perasaan senang yang kita dapatkan dari perilaku manusia yang semakin banyak semakin menyenangkan tepat tergambar di aktivitas medsos.
.
Itulah makanya dalam Islam ada salah satu doa yang diajarkan dalam al-Quran yang juga dianjurkan untuk senantiasa kita lafalkan dalam setiap dzikir sehabis sholat, yang kurang lebih bunyinya sebagai berikut:
.
"Robbanaa.. hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa.. Qurrota A'yun.. wa ja'alnaa lil muttaqiina imaamaa.."
.
Kurang lebih artinya kita memohon kepada Allah agar dianugerahkan pasangan dan anak-anak keturunan yang sholeh dan menyedapkan pandangan mata kita.."
.
Begitu kira-kira, semoga bermanfaat buat sudara-sudara.

#Kunci_Alatthos
Share:

Air Kran Yang Terbuang


Pernah saat saya sedang berwudhu terlintas di benak saya pemikiran iseng. "Qodarullah, air yang keluar dari kran ini tidak semuanya mampu menyentuh dan mensucikan anggota wudhu ku. Tidak semuanya air ini terpilih untuk mensucikan mereka. Sebagian ada yang terpakai untuk membasuh wajahku, ada yang kebagian membersihkan rongga mulutku, ada pula yang terbuang begitu saja ke bawah dan bercampur dengan air selokan lainnya."
.

Dari air wudhu itu sayapun mencoba mengambil analogi, betapa kehidupan ini sudah begitu terstruktur dengan sempurna. Sistem sunnatullah yang sudah ada dengan sendirinya mengelompokkan jiwa-jiwa di dunia ini. Sehingga secara otomatis hati seseorang akan terkelompok sesuai dengan lebih condong kemanakah dia. Apakah lebih condong kepada kebenaran atau malah sebaliknya.
.
Jiwa yang condong pada kebenaran akan berkelompok dengan jiwa yang sama-sama condong pada kebenaran. Begitupun dengan jiwa yang condong pada kesesatan akan terkelompok dengan sendirinya. Dua-duanya menurut perspektif Islam menyandang status yang jelas yakni benar dan sesat. Istilah bekennya Muslim dan Kafir.
.
Nah, Adapula sekelompok jiwa yang remang-remang. Kelompok ini yang rada sulit ditebak, ibarat wanita dalam kondisi menstruasi, mereka senantiasa berubah-ubah dan terombang-ambing dalam ketidakjelasan status. Bimbang antara kebenaran ataukah kesesatan yang hendak mereka ikuti? Inilah jiwa orang munafik. Terkadang mereka bangga dengan keislaman nya. Namun, tak jarang di hari lain mereka bangga mengolok-olok agamanya sendiri.
.
Begitulah jiwa orang munafik, ibarat waria. Mau dibilang cowok tapi mereka lebih endhaa..ang dari pada cewek. Mau dibilang cewek tapi ototnya pada Benjol macam bantal guling. Serba salah kan jadinya? Menurut pendapat pribadi saya, jiwa-jiwa kaum munafik itu ibarat bencong-bencong agama. Itu sudah
.
Tapi, ya begitulah... Ibarat air wudhu tadi, sudah sunnatullah memang semua kelompok jiwa tersebut harus turut mengisi kehidupan di dunia ini. Baik yang Muslim, munafik maupun yang kafir. Hanya saja beda dengan air kran, kita sebagai manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih mau menjadi apa. Mau jadi seorang Muslim? Kafir? Ataukah bencong? Eh.. maksute munafik? Tentu saja, setiap pilihan memiliki konsekwensi nya masing-masing. yah, intinya segala sesuatunya kembali ke jiwa kita pribadi ya sob...
.
Oiya, berbagai peristiwa yang melanda kaum muslimin sejak kemarin dan beberapa bulan sebelumnya tampak menjadi semacam ruqyah lho...Bisa dibilang jin-jin bencong yang selama ini berbaur dengan komunitas Muslim pada kepanasan dan tanpa ragu-ragu memperlihatkan semua Batang hidungnya. Beneran lho.. kelihatan dari opini-opini nya... Tapi tenang aja sob, selama nyawa belum lepas dari raga, para bencong-bencong agama tersebut masih memiliki kesempatan kok buat kembali.. yaqin lah sung.. masih bisa balik maning
.
Share:

Prestige-nya Biaya Pendidikan Dasar Islam


Tazkirah.net 
Saya sebagai orangtua bagi anak-anak saya, sangat ingin sekali agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan garis-garis sunnah yang telah ditauladankan oleh Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Namun rupanya kondisi di sekitar sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Entah karena memang saya belum berkemampuan mencari tempat tinggal yang lebih kondusif atau mungkin memang inilah satu kesulitan jika tinggal di tengah-tengah masyarakat yang pola budaya Nahdhiyin nya terasa begitu kental.

Sebagaimana kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Artinya saya mau tidak mau harus sesigap mungkin menghindari terjadinya kles di tengah-tengah mereka. Sejenak saya mesti meletakkan karakter idealis saya terkait dengan pola bermuamalah dengan masyarakat. Artinya saya mencoba mengimplementasikan kaidah "meninggalkan maslahat demi menghindarkan mudharat yang lebih besar." 

Hal ini termasuk di dalamnya adalah memilihkan lembaga pendidikan bagi anak saya. Idealnya saya ingin anak saya yang setingkat kelas 1-3 SD ini bersekolah di Sekolah Dasar atau lembaga yang berasaskan Islam (bukan SD Negeri) dan lebih spesifiknya lagi, saya menginginkan Sekolah Dasar yang non Nahdhiyin, artinya lembaga pendidikan yang menghindari pola pendidikan berbasis Nahdhiyin yang biasanya sarat dengan ritual-ritual ijtihad kaum Nahdhiyin. Seperti sholawatan, kasidahan, marawisan dan nyanyian-nyanyian lain yang semua kebanyakan bersumber dari ijtihad kaum Nahdhiyin. 

Sebelumnya, saya mau menggarisbawahi kata sholawatan disini. Yang saya maksud sholawatan di atas adalah, kalimat-kalimat syair dan pujian gubahan beberapa penyair muslim yang dilantunkan dengan nada-nada tertentu. Bukan teks sholawat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Belakangan ini ada kesalahpahaman yang terjadi antara kaum muslimin terkait kata sholawat dan sholawatan ini. Dan hal itu terjadi hanya di Indonesia. Menurut hemat saya seharusnya tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, hanya saja reaksi yang datang dari kaum muslimin tentu saja berbeda. Tidak harus semuanya sama. Saya termasuk yang berusaha berhati-hati dalam mengikuti ijtihad yang ada. Artinya jika saya mengikuti hanya yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya itu lantaran saya hanya berusaha untuk berhati-hati. Adapun untuk kalangan Nahdhiyin yang lebih banyak bentuk ijtihadnya itu juga pilihan mereka, saya tidak ada hak untuk melarangnya, pun kaum muslimin yang lainnya. Selama dia bersyahadat dan sudah baligh dan dewasa tentu saja mereka berhak memilih mana yang terbaik menurut mereka. Adapun saya, cukuplah saya berhati-hati hanya dengan mengikuti sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, tanpa harus saya mempersalahkan mereka yang tidak sama dengan saya. 

Namun, lagi-lagi sayapun terbentur dengan tingginya biaya pendidikan yang secara kolektif distandarisasi oleh hampir rata-rata lembaga non Nahdhiyin, seperti lembaga pendidikan yang bermanhaj IM, HTI, Persis atau Muhammadiyah. Di mana lembaga pendidikan garapan mereka tersebut tampak begitu prestige bagi sebagian kalangan bawah. Termasuk saya. 

Kadang saya bertanya-tanya. Kenapa lembaga-lembaga pendidikan yang menurut saya lumayan lurus dalam mengimplementasikan sunnah Nabi tersebut terkesan menaruh tarif yang terlalu tinggi bagi saya sebagai masyarakat biasa yang pendapatannya standar 'bawah'. 

Tidak bisakah mereka 'menyaingi' lembaga pendidikan tradisional dalam hal biaya pendidikan? Seperti yang dipraktekkan oleh kalangan Nahdhiyin yang sebisa mungkin menekan biaya pendidikan sehingga kalangan bawah pun bisa menikmati pendidikan murah dan menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan Nahdhiyin tersebut. 

Termasuk saya. Lantaran ketidak-mampuan saya dalam memenuhi standar harga tinggi mereka tersebut, sehingga pupus sudah niatan saya untuk menyekolahkan anak saya di lembaga pendidikan atau institusi yang saya telah sebutkan di awal paragraf dan juga lembaga-lembaga lain yang sejenisnya. Dengan sedikit 'terpaksa' karena keterbatasan tersebut, saya harus rela anak saya ikut menghafal dan menyenandungkan 'lagu-lagu' sholawat, dan segala jenis ritual ijtihad kaum Nahdhiyin yang sangat jarang dicontohkan oleh para Sahabat dan Ulama salaf lainnya. 

Kadang saya heran, tidak bisakah lembaga pendidikan di luar Nahdhiyin memanfaatkan dana-dana BOS dari pemerintah atau yang sejenisnya? Sehingga -gap- tersebut bisa hilang atau minimal dapat meringankan standar biaya mereka? Sehingga kami-kami ini yang saat ini belum mampu menembus standar "mewah" bisa pula merasakan pendidikan mereka? Ataukah memang lembaga-lembaga tersebut lebih mementingkan materi ketimbang mendidik generasi islam untuk tetap melangkah di atas sunnah? 

Ya Allah ya Rabbi tolonglah kami ummat yang terlalu lemah ini, dengan kekuatan-Mu yang menciptakan alam semesta ini, hindarkanlah hati-hati kami atas ketergantungan pada materi dunia, condongkanlah hati para pemimpin dan pendidik kami kepada kemurnian ajaran-Mu, karena sungguh tiada yang mampu menyondongkan hati segala makhluk di dunia ini kepada millah-Mu kecuali hanya Engkau.
Share:

Habis Mengusir, Kemudian Mengundang Jin

"Hahaha.." Imran tertawa sendiri memperhatikan pengajian yang sedang diadakan di kediaman bapak Purun yang letaknya beberapa rumah dari rumah kediaman Lukman teman pondoknya Imran.

"Kenapa mran? Ente liat lagi?" Tanya Lukman.
"Iya luk. Politiknya para jin ni emang top dah." Jawab Imran. "Tadi sewaktu pengajian dimulai ane liat dedemit pada berlompatan lari menjauhi tu majlis." Sambungnya lagi
.
Lukman hanya terkekeh, karena memang dia tidak dapat melihat apa-apa. Namun Imran memang sejak di pondok sudah dikenal di seantero pondok dengan kemampuannya yang katanya dapat melihat bangsa jin. Tapi iapun tidak pernah melakukan apa-apa ketika melihat makhluk-makhluk astral tersebut. "Sesekali kaget memang luk. Tapi lama-lama juga terbiasa." Terangnya pada Lukman suatu hari.
.
"Ente ga kepikiran dakwah ke mereka mran? Suatu hari teman pondok yang lain bertanya iseng.
.
"Ngga lah, menurut Ust. Syukri, bukan wewenang manusia berdakwah dengan Jin. Karena dari bangsa merekapun sudah ada kaum muslimin yang tugasnya mendakwahkan Islam sebagaimana bangsa kita." Jawab Imran.
.
Kembali ke rumahnya Lukman. Malam itu Imran bertandang silaturahmi ke rumah teman sekamarnya Lukman. Sudah lama mereka memang tidak bertemu semenjak angkatan mereka tamat dari pondok yang terletak di kaki gunung merbabu Salatiga itu. Imran menurut kabar yang didengar oleh Lukman, melanjutkan studi di LIPIA Jakarta. Sedang Lukman membantu pamannya mengurus peternakan di Bogor, sambil mengisi kegiatan pengajian di sekitar kampungnya tersebut.
.
"Giliran majlis yasin dan tahlil kelar, mereka pada nongol lagi tu mendekat." Ujar Imran.
.
"Mungkin karena kepulan asap rokok itu kali ya yang menarik mereka untuk mendekat kembali?" Tebak Lukman sambil memandang majlis taklim di rumah Pak Purun, Lukman mengerjap-ngerjapkan matanya.
.
"Bisa jadi luk. tu dedemit ane liat memang seperti menghirup-hirup kepulan asap rokok para jama'ah. Keliatan Majelis Yasinan ama Tahlilan nih, habis ngusir para Jin terus diundang lagi buat dijamu asap rokok.. hehe.. lucu" Jawab Imran.



"Kenapa ane bilang begitu? Ente harus tahu luk, sedari zaman dahulu tu, rokok atau menyan itu jadi makanan khas yang disajenkan sama sepuh-sepuh agama kejawen. Jadi bagi masyarakat jin wilayah indonesia nih, rokok termasuk makanan lezat bagi mereka. Makanya ane simpulkan begitu, habis mereka mengusir para jin dengan doa-doa tahlil, eh.. mereka mengundangnya kembali dengan menyuguhkan asap rokok. ya Allah.." Tambah Imran.
.
"Memang betul sudah Allah memerintahkan agar kita senantiasa berdoa sebelum melakukan setiap kegiatan luk. Mereka dimana-mana ada. Seperti hendak menyentuh kita." Lanjut Imran.
.
"Beruntung ente kaga melihat mereka." Tambahnya lagi. Lukman mengangguk-angguk
Share:

Trik Hacking Hafalan Al-Quran Kilat Bagi Orang Dewasa

Pernah tidak sebagai orang tua terlintas dalam benak anda semua untuk kembali menambah hafalan Al-Quran yang sudah bertahun-tahun tidak lagi digeluti bahkan terlupakan? Sudah pasti pernah ya saudaraku.

Kata sebuah pepatah yang sering saya dengar waktu masih ingusan. (Sekarang pun sebenarnya saya juga sering "ingusan"). He

.
"Belajar selagi kanak-kanak bagaikan mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagaikan mengukir di atas air."
.
Saat itu, tentu saja otak saya belum bisa mencerna dengan benar maksud dari pepatah di atas itu apa. Bagaimana mungkin mengukir di atas air? Pahat yang dibutuhkan pahat macam apa yang bisa mengukir air? Sungguh terlalu orang dewasa ini. Rutuk saya saat itu.
.
Namun kini sayapun akhirnya paham seiring dengan bertambahnya usia. Sayapun memahami alasan sehingga terciptanya pepatah tersebut. Orang dewasa itu sebagian besar memahami informasi hanya untuk sekedar tahu, bukan untuk dihafalkan. Syukur-syukur jika pas lagi dibutuhkan masih ingat. Hehe.
.
Beberapa faktor yang ditengarai sebagai penyebab susahnya orang dewasa menghafal adalah karena mereka mengarahkan kemampuan otaknya lebih prioritas kepada hal-hal yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Tentu saja hal ini menyebabkan hal lain yang di luar rutinitas kerja dinomorduakan. Bukan generalisir, tapi memang sebagian besar faktanya seperti itu.
.
Termasuk dalam menghafal al-Qur'an. Mungkin tidak semua orang dewasa bisa menyempatkan waktu menambah hafalan qur'annya secara rutin. Padahal kita pun mungkin secara garis besar sudah tahu bahwa: salah satu penolong kita di alam kubur kelak, yang menemani dan menerangi kubur kita itu adalah al-Quran yang kita bermanja-manja dengannya sewaktu di dunia.
.
Nah, saya termasuk sosok yang agak sulit menghafal Qur'an. Mau gimana lagi, otak yang Allah berikan ini memang terlalu sibuk dalam berfikir, sehingga sangat sulit sekali untuk fokus, terlalu banyak protes, aksi, demo. Memikirkan satu masalah yang sebenarnya tak terlalu penting dan berbagai curious sehingga sebagian besar informasi yang datang terlalu tergesa-gesa untuk pergi menghilang. Hehe. That's okay.
.
Namun tentu saja, sesuatu yang baik untuk diri ini harus saya paksakan, dengan harapan kelak menjadi budaya yang baik dan berguna minimal bagi diri saya sendiri.
.
Ok, lanjut. Salah satu teknik yang bisa membantu saya menambah hafalan Quran adalah listening. Di mana teknik ini fokus mengandalkan indera pendengaran. Alhamdulillah, saat ini kita begitu dimudahkan dengan berbagai macam fasilitas teknologi, salah satunya adalah smartphone. Saya menginstall aplikasi Qur'an yang memiliki fitur murottal beberapa syaikh penghafal Qur'an terkenal semisal Syaikh Al-Ghomidi, Syaikh Al-Mathrud dll. Hal itu jelas sangat memudahkan saya. Kemudian ada fitur dimana saya bisa memainkan ayat tertentu dari sebuah Surah dari al-Qur'an dengan cara di'loop', ini mungkin adalah metode yang diistilahkan sebagai teknik muroja'ah alias mengulang-ulang.
.
Mungkin sebagian orang jika berangkat kerja mengendarai motor atau mobil mengisi waktu dengan memutar puisi-puisi indah kehidupan yang berbaris di playlist mereka, pun saya melakukannnya pula. hanya saja dengan me-loop-ing sebuah ayat yang hendak saya tanamkan di otak saya.
.
Hasilnya alhamdulillah, meskipun tetap saja tiada gading yang tak retak, sama halnya dengan otak saya, ada sedikit keretakan di sana sini dalam proses penanaman ayat-ayat suci al-Qur'an ini. Namun saya yakin, ciptaan Allah satu ini -otak- sangat luar biasa sekali kemampuannya. Saya yakin itu. Meskipun saya juga sadar, ungkapan pepatah yang saya kutip di awal paragraf tadi memang ada benarnya.
.
Tapi saya yakin untuk hal sebaik ini rasanya sayang jika saya tidak memaksa otak saya untuk terbiasa melakukannya. Karena sebagaimana kawan-kawan pahami bahwa kematian itu adalah hal yang paling dekat jaraknya dengan kita. Kan ga lucu pas saya lagi naik motor, tiba-tiba dari arah belakang saya dilindes truk tronton, badan saya hancur tapi smartphone saya selamat.. celakanya smartphone saya begitu didengarkan lagi memutar lagunya Ayu Ting ting yang masih bingung dengan alamat suaminya? he
Share:

Obrolan Santai Muh - Ayat-ayat Kauniyah

Muh tertegun memandang jauh ke depan. Dia memperhatikan gerak-gerik, tingkah pola perilaku manusia yang berseliweran silih berganti di depan kiosnya. Ada yang berjalan sembari asyik masyuk memainkan smartphone nya, ada pula yang tampak terburu-buru sembari memperhatikan jam di pergelangan tangannya.

"Subhanallah... Maa Kholaqta Haadza Baathilaa..." Muh, bergumam kecil menyaksikan betapa sibuknya manusia dengan kesehariannya. Pikirannya melanglang buana menghadirkan imajinasi spirit pengetahuan yang selama ini menjadi karakter utama yang memenuhi rongga pemikirannya.

"Seandainya saja kerakusan mengejar kemuliaan akhirat seimbang dengan keadaan saat mengejar dunia. Allahu akbar, alangkah indahnya dunia ini. Karena semestinya dunia di bawah naungan islam." Ia tertegun sejenak, kemudian melanjutkan imajinasi keilmuannya. "Sayangnya, kerakusan tersebut terbatas pada hal yang bersifat materi saja. sayang sekali" Gumam Muh.

Di Saat Muh sedang asyik bermain dalam Daydream nya, sebuah suara membuyarkan lamunannya. "Weis. Muh, ente lagi ngelamunin apa serius amat?" Firman menyapa Muh. "Ah, ente Fir, hehe kaget ane kirain siapa.." Jawab Muh. "Lagian ente melamun serius amat, lagi mikirin utang kah?" Timpal Firman, "Ah, kaga Fir, iseng aja ngeliatin manusia berlalu lalang di jalanan" Jawab Muh, "oh gitu, kirain lagi mikirin sesuatu yang amat serius, habis tampang ente tegang amat tampaknya..." ujar Firman. "Hehehe..." Muh terkekeh.
Share:

Obrolan Santai Muh - Fitrah Lelaki

"Maaf, mas tolong diketikkan yg ini ya mas, ada beberapa lembar. Perlembarnya disini berapa mas?" seorang mahasiswi bertanya kepada Muh. Yang ditanya mengangguk-angguk sambil memandang ke bawah, si mahasiswi salah tingkah sesekali ikut mencari-cari apa yg dilihat mas yg punya rental.

"Maaf mas, disini perlembarnya berapa?" tanya si mahasiswi lagi. "Oh, maaf mba,"
Share:

Obrolan Santai Muh - Trik Percepat Komputer

Muh sedang merapikan barang dagangannya. Tiba-tiba datang seorang mahasiswa ke rentalnya membawa sebuah tas isinya tentu saja..

"Silahkan mas, ada yg bisa saya bantu.." Muh menawarkan bantuan ke pelanggannya. "Iya ni mas, laptop saya windowsnya agak lemot napa ya? Bisa dibuat banter ga mas?" jawab si mahasiswa sekaligus bertanya kepada Muh. "oh, ok mas, saya coba. Mari saya pinjam laptopnya bentar.." jawab Muh, "oh, ini silahkan.." jawab si mahasiswa sambil mengeluarkan dari tas lalu menyerahkan laptopnya pada Muh.

"Emang bisa ya mas windy dicepetin?" si mahasiswa yg ternyata bernama Joko bertanya ke Muh. "Windy? Siapa windy Jok? Perasaan nama betina?" Tanya Muh. "Windy bahasa kerennya windows mas.." Jawab Joko. "Oh.. Kirain nama akhwat. Ente bisa aja becanda, bisa jok bisa, ntar saya ajarin deh.." ujar Muh.

"Jadi, biasanya klo windy error ato lambat, biasanya di folder temp ato prefetch, banyak file2 junk ato sampah yg tertinggal.. Pertama, ya coba qta hapus dulu file2 di folder system tersebut.." ujar Muh, "caranya?" tanya Joko. "Caranya, ente show dulu settingan hidden menjadi SHOW HIDDEN FILE, trus buka drive C: document and settings, user, local settings, temp. Nih, banyak amat tho?" ujar Muh, sambil menghapus file2 junk. "Oo.." Joko ber-o-ria.

"Trus sekarang ente buka mycomputer, klik kanan pilih properties, nah, kan ntar muncul properties dari windows, di tab-tab menu yang atas pilih dan klik tab menu advanced. Ntar kalo dah muncul, pilih menu permormance - setting, biasanya muncul paling atas kok. klik setting, ntar muncul window baru, pilih menu visual effect, ini jok katanya lumayan membuat windows ente lebih ringan. Nah di menu radio button kan cuma tiga tu pilihannya, ente pilih aja adjust best permormance, ntar kan smua yg dicentang jadi hilang, biar tampilan khas windows xp nya ga hilang, ente drag ke bawah trus centang dua menu dari bawah, yang use drop shadows for icon label bla..bla.. sama menu use visual style on windows bla..bla.. trus kita klik ok, ok.. jadi dah.." Ujar Muh sambil tersenyum ke Joko. "wah mas, ente bisa aja.." balas Joko.
Share:

Obrolan santai Muh - Wanita Cantik

"Assalamu'alaikum.. Whe..ii, bro, kef haalek ustad?" Ali, menyapa tiba-tiba. Muh yg sdang fokus mengerjakan ketikan di depan komputer nampak terkejut namun kmudian tersenyum. "MasyaAllah Ali, kmana aja ente fren? Lama banget ga tampak batang gigi ente.. Haha" canda Muh, "Haha..ha" Ali tertawa lepas. Mereka berdua bersalaman dan saling merangkul. Muh menepuk-nepuk pundak Ali. "MasyaAllah, sobatku ini, silahkan-silahkan.. Duduk sob.." Muh mempersilahkan Ali duduk. "syukron2.." Jawab Ali.

"Nt dimana skarang li? Nomer hape nt ane hubungi ga pernah aktif jeh.." kata Muh. "Iya nih muh, maaf banget. Soale hp ane brpindah tangan. Ane skarang di Surabaya, dagang.." jelas Ali. "MasyaAllah, pengusaha trnyata bliau nih. Luar biasa, emang nt dagang apa li?" tanya Muh, "Ah, biasa aja Muh, ane dagang kecil2an, coba buka warung kopi. Ya alhamdulillah, dikit2 bisa nabung buat masa depan" jelas Ali. "Alhamdulillah, amin" Muh mengamini. "Iya li, orang2 sperti qta nih memang untuk memulai usaha harus lbih tekun ya akh? Soale lbih dibutuhkan modal mental ktimbang modal dana. Walaupun memang sih modal dana ga bisa dikesampingkan begitu saja. Ya ngga?" jelas Muh, Ali mengangguk.

"Ente gimana Muh? Tampaknya bisnis makin lancar aja? He2" Tanya Ali. "Alhamdulillah li, sama sperti nt, bisa nabunglah walaupun hanya sdikit2 aja, trutama persiapan buat mencari muslimah yg sholehah dan cakep li" jawab Muh. "Nah itu die maksud ane Muh, masa depan. He2" Ali angkat bicara.

"He2, ente masih bau kencur dah ngomongin akhwat ajeh li" canda Muh. "He2, nt dah cukup umur malah masih malu2 gitu ngebicarain akhwat" balas Ali ke Muh. "haha.." mereka berdua ngakak berbarengan.

"Iya nih li.. Li, aslinya mnurut pendapat ente wanita cantik tu yg kayak gimana sih?" Tanya Muh slanjutnya. "Wah, klo ane ditanya karakter wanita cakep versi ane" Ali diam sjenak, kmudian melanjutkan kata2nya. "yg pertama, pasti sholehah. Ane beralasan, wanita yg sholeh paham trhadap aturan Tuhannya, jadi jika Tuhannya memerintahkan agar ia menghormati dan ta'at pada suami maka ia melakukannya. Trus jika Tuhannya menyuruh untuk menjaga kehormatan suami, maka dia akan menjaganya. Ini kriteria ane banget Muh.." Ali terdiam sjenak menarik nafasnya, Muh trsenyum. "Selebihnya, nasabnya bagus Muh, cantik. Tentunya, he2" lanjut Ali sambil terkekeh. "Siapa sih yg ga mau yg cantik li, he2 klo itu mah ane juga mau..he2" Muh menimpali. "Tapi gampang Muh, klo ntar wajah kurang memadai, pakein cadar aja, kan yg penting hatinya cakep He2.." canda Ali, "hush! Ente, ntar didengar ma yg diatas noh," tegur Muh. "Bcanda Muh, bcanda.." jawab Ali

"Eh, iya ngomong2 ente lambung dah demo lum li? Qta makan bakso dulu yuk?" Muh menawarkan kepada Ali. "Oh, boleh Muh, nampaknya lambung ane udah ga bisa fokus lagi nih. Ngusek mulu dari tadi" jawab Ali mengiyakan tawaran Muh

"Klo ciri khas akhwat yg ane idamkan li.." lanjut Muh di sela-sela mengunyah bakso pak jambu. "..selain ciri2 yg tadi ente sebutkan yaitu, mau menjadi istri dan pendamping ane seutuhnya, maksud ane bgini, ketika ane kluar mencari nafkah. Ia siap menjadi pendamping bagi anak-anak ane kelak, merawat, membimbing dan menjadi madrasah bagi anak-anak ane untuk blajar tentang akhlak dan moral dasar bagi mereka, sehingga kelak kbutuhan anak ane akan akhlak dapat trpenuhi insyaAllah.." Muh memasukkan 1 pentol bakso ke mulut dan mengunyahnya sambil matanya menerawang ke jalan di dpan rentalnya. Ia tampak memperhatikan lalu lalang orang di jalan tersebut. Sedang Ali tampaknya kepedesan sehingga mulutnya berhuhah ria, keringat tampak mengucur dari dahi dan lehernya, ia menyeruput es jeruk yg tadi turut dipesannya. "subhanallah..nikmatnya.." gumam Ali, Muh tersenyum mendengarnya sambil melanjutkan makannya.

"Yang pastinya li.." Muh melanjutkan. "Hidup ini kan indah jika muslimah sholehah ada di sisi kita. Ok?" lanjut Muh menyelesaikan penuturanya.

Mereka berdua menyelesaikan urusan perut mereka, kmudian bergegas ke musholla karena azan dzuhur dah bersenandung. Sesekali mereka bercakap dalam perjalanan ke musholla tersebut.

Perlahan point of view dari frame cerita ini mengarah ke langit biru menembus gumpalan awan, melewati atmosfir, hingga melewati ruang hampa. Tampak bebintang bercahaya terlewati, smakin lama smakin melaju meninggalkan bumi yg tampak smakin mengecil, melaju hingga ke bawah arsy tempat para penghuni kahyangan bersujud di hadapan Rabb Al Alam.

Yang pasti, setiap lelaki muslim yg sungguh2 mengerti akan status kemuslimannya, pasti mengidam-idamkan sosok muslimah yg sadar akan kodratnya sebagai wanita. Kodrat untuk menjadi sosok pendidik bagi anak2nya, untuk mendidik sang anak agar menjadi sosok manusia yg sholeh dan bermoral mulia. Bukan sosok wanita yg salah kaprah dalam mengartikan istilah kesetaraan yg ujung2nya hanya melalaikan kodratnya sebagai wanita sebagai sosok pendidik, sehingga menjerumuskan generasi pelanjut ke dalam jurang gelap gulita..
Share:

Obrolan Santai Muh - Taqdir

"Oh, kalo menurut yang ane baca dan pahami, sesungguhnya takdir itu adalah segala apapun di dunia ini, baik yang samar, ataupun yang jelas. Yang dulu telah berlalu, masa kini ataupun masa depan yang masih belum pasti. Masuk dalam kategori takdir." Muh menjelaskan ke Andri dengan nada intonasi sedikit ditinggikan.

"Iya muh, ane paham maksud ente, cuma maksud ane begini loh.." Andri memutus kalimatnya, ia nampak seperti sedang memutar otaknya, mungkin mencoba memilih kata yang tepat buat menjelaskan apa yang dia pahami seputar takdir kepada Muh. Muh menatap Andri berusaha membaca jalan pikirannya.

"Gini lho Muh..., ane membedakan antara takdir dan sunnatullah". Sambung Andri. "Iya.. iya, ane paham Ndri. Trus maksud ente beda antara takdir dan sunnatullah tu gimana? Emangnya beda ya? Kesimpulan itu ente menggunakan pendekatan apa? Dasarnya apa? Maa daliil man?" Muh bertanya tegas ke Andri, nampak dengan mimik alis sedikit ditarik ke atas, mungkin buat menegaskan pertanyaannya.

Andri nampak tersentak sedikit."Weh, Muh segitunya". Gumamnya dalam hati. Trus dia terkekeh-kekeh sambil menatap Muh. "Ah, ente Muh, serius amat, kuling daon man.. kuling daon, ga segitunya kali Muh." Muh tersenyum.

"Masalah pemahaman seperti ini masalah serius Ndri, ente ga bisa asal menyimpulkan aja, coz takdir itu termasuk rukun iman." Ujar Muh, "artinya pondasi dasar sob, ente ga boleh memahaminya asal hantam kromo." Sambung Muh lagi. "Lah, itu die Muh... ane ga asal hantam kromo, ada proses dan variabelnya man..." Jawab Andri.

"Lantas, ente berdalil atas dasar apa? Tanya Muh, "oke, gini aja deh... Tentang takdir dan sunnatullah, ane pengen dengar langsung dari ente dalilnya." Lanjut Muh dengan nada sedikit ditegaskan.

Andri terdiam sesaat sambil memandang Muh yang nampak menunggu jawaban darinya. "Gini aja Muh, berhubung ane kurang begitu hafal detil dalil alQur'an maupun hadits, ane hanya bisa mengambil analogi dan fakta aja deh sebagai contoh. Ente mau denger ga?" Ujar Andri.

Muh nampak sedang berfikir. Namun sesaat kemudian ia berujar. "Boleh deh, tapi yang rasional ya? Artinya, secara akal fikiran keterima, secara islam juga ada tuntunan." Ujarnya sambil tersenyum. "Woke man, oke.. pasti rasional." Balas Andri.

"Gini Muh, ente lihat kan awan di sana?" Andri menunjuk seonggok awan putih yang berarak di langit biru. "Sip. Ane lihat" Jawab Muh, "sekarang coba ente lihat awan yang di bagian timur sana..
Share:

Para Pecundang di bawah Ketiak Burung

Assalamu'alaikum. Tadi pagi ngeliat berita di tipi. Membuat saya sedikit merenung, "sampai separah inikah moral anak bangsa yang menjadi pemerintah di Indonesche ini? Kok sebentar-bentar selalu saja ada berita tentang korupsi, di sono lah - di sana lah. Entah di mana-mana semua korupsi.

Mengapa keadaan Indonesia seperti ini? Apa ini adalah efek negatif sejarah masa lalu? Lantaran bangsa ini pernah terjajah sekian ratus tahun kemudian membentuk pola pikir bagi individu nya untuk hidup enak? Ato justru keadaan karakter ini adalah efek negatif dari "Ide dasar" bangsa ini yaitu pancasila? Entahlah, yang jelas bagi mereka-mereka yang lebih paham, pastinya mengetahui apa niatan para pemula dalam membangun bangsa ini.

Melihat dari landasan UUD 4.. , empat apa ya? 41 ato 4,7? Ah ga ngerti. Yang jelas untuk memahaminya saja butuh seseorang yang mampu menerima kerancuan pola fikir :P. Jadi dengan kata lain, selama seseorang itu pola fikirnya masih normal, maka tentu ia tidak akan mungkin mau menggunakan UUD 40 sebagai pedomannya dalam berbangsa dan bernegara.

Satu yang ingin aq sampaikan, jika anda melihat dan menelaah lebih seksama poin-poin isi dari UUD 40, anda akan melihat sisi kesombongan manusia yang merasa mampu membuat UU melebihi aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan Semesta Alam. Kalo toh di dalam UU itu tertera nama Tuhan, itu hanya seringai berkedok religi. Hanya sekedar baju agar semua rakyat tahu bahwa manusia pembuat UU ini, termasuk manusia yang ber-tuhan dan beradab tentunya.

Mana bukti bahwa UUD 40 itu tidak memiliki sisi positif sama sekali. Ya.. liat aja keadaan bangsa ini. Korupsi di sana-sini, maksiat di sana-sini, narkoba di sini-sana, dan masih banyak lagi efek-efek sangat negatif dari peraturan undang-undang berlambang berhala "burung" ini. "Wah anda ga bisa langsung memvonis seperti itu bos." Bisa saja. Bukankah smua hal di atas bersumber dari peraturan UU yang memang mengkondisikan hal negatif di atas terjadi? Ya aq boleh dong beropini. Bagi yang merasa tersinggung... yah, berarti memang sepantasnya tersinggung. ;)


Share:

Tabu yang melilit di benak

Hff... Kadang memang agak heran kalo melihat 'kengerian' sebagian anak manusia dalam memandang pasangan hidup dari sudut pernikahan. Sebagian mereka seolah dengan menikah berarti mereka harus bersiap melompat dan masuk ke dalam lembah atau bahkan jurang yang dalam dan menakutkan. Bahkan boleh jadi sebagian dari kita membayangkan, bahtera pernikahan itu bagaikan ruangan yang gelap gulita, di mana segala sesuatunya tak nampak oleh indra penglihatan kita, atau ibarat terperangkap dalam lilitan-lilitan jerat hitam yang membuat organ tubuh tak mampu bergerak bebas sama sekali. Hff... lucu.





Share:

Menikmati Kesendirian

Hening... tiada suara yang terdengar, hanya sesekali hembusan angin terdengar berdesir... menambah suasana keheningan menjadi semakin terasa sepi. Hanya hentakan suara detik jam, yang terus menemani setiap frame kehidupan yang kulewati.

Smua pergi, semua berlari tinggalkanku sendiri...tinggalkan smua yang pernah dijanji...
Share:

Menghitung Hari

Alhamdulillah, ga terasa sekarang udah sampai tanggal 25, sungguh benar, jika sekiranya kerinduan untuk bertemu diiringi dengan kerjaan baru. Yakni menghitung hari. Wah kalo dah menghitung hari, ini hati rasanya makin deg-deg-an aja pingin ketemu ama istri tercinta.

Sebenarnya sih kalo 'ade' ku tahan ikut dengan suaminya, barangkali ga bakal terpisah jarak seperti saat ini. Tapi ya mo gimana lagi, wong jika tetap bersikeras ikut suami barangkali ntar ada apa-apa dengan janin yang sedang dikandungnya. Tapi insyaAllah, selepas sang buah hati menampakkan dirinya ke dunia. InsyaAllah langsung kubawa ke 'medan perang' dunia. :)

Pokoknya aku harus buat keputusan. Sebagai seorang suami emang terkadang kita dituntut untuk mengambil keputusan yang tepat. Dan aku memutuskan akan membawa serta istri dan anakku, apapun yang terjadi mereka harus senantiasa berada di sampingku.

Emang sih perasaan, kita ini serasa masih pacaran aja. Kadang bentar-bentar telpon, ato sms (kalo pas kantong cekak), tapi ya gapapa. It's a choice.

Yang jelas udah kuputuskan, aku harus hidup dengan keluarga baruku jika ingin menjadi lebih baik.

Ya, istriku tunggu kehadiran arjunamu di sana. Do'akan arjunamu yang masih di sini agar ga pernah luput dari mendoakan diri dan anakmu di sana. Amin
Share:

I'm not good today

Bismillah...

Hmm... pagi ini begitu indah, burung bernyanyi (berkicau) udara segar banget, indahnya jika hari ini bisa kulewati bersama istriku tersayang. Memang kk akui sayangku, pekerjaan yang kk terima ini mengandung resiko jauh darimu. Tapi yakin sayangku... satu hari nanti kk percaya kamu mampu melewati segala yang tak mampu kamu lakukan hari ini. Kk paham, kamu juga pasti merasa tersiksa jauh dari kk. Kk akui itu sayangku... Memang berat ketika kita sudah memiliki sandaran hati, kemudian ternyata kita jauh darinya. Mungkin hanya kesabaran yang mampu kita ukirkan dalam diri kita masing-masing. Kk yakin keindahan tentang arti pertemuan itu akan terlukis indah, di saat kita terpenjara oleh jarak. Yakin sayangku, ini hanyalah segelintir ujian dari Allah.. Kk janji kelak akan slalu berusaha tuk menimang impian di sampingmu, bersamamu di sampingmu...

Oh iya sayangku, akhir-akhir ini kk jadi sering begadang soale tugasnya ada saja. Kk jadi teringat sewaktu dulu kk jaga warnet terkena lever ato penyakit kuning karena sering bergadang jaga malam. Akhir-akhir ini kk mulai merasakan lagi gejala ulu hati kk yang sering berdenyut perih.. tapi semoga saja bukan gejala yang bukan-bukan ya sayangku...

Oh iya, segarnya hari ini ternyata ga sesegar tubuh kk hari ini. Maafkan kk adeku ya.. trims dah mempercayakan sebagian dari hatimu kepada kk. Kk janji akan kk bahagiakan apa yang dikau percayakan pada kk. Wassalam,

amif, ada gejala liver di pagi hari...
Share:

Assalamu'alaikum Dunia

Wah, this morning, though not as bright as yesterday. But it still has somethin' special that i can feel. Yeah this morning i can breath again, it's mean that i still have chance to pray and say thank to Allah swt.

I always hope, during my breath is still blows, i hope Allah always exist in my heart, and my mind. And i always hope, if someday when Allah ends my life. I wanna dead in believing to Him

Thanks Allah to make me proud to be a moslem.
Share:

"Emansipasi Keliru", membuat Lelaki cemburu

Wah hari, ini udara terasa panas banget, padahal keknya di luar mendung je. Mm ada dikit waktu luang mending diisi dengan menuangkan informasi subjektif ke lembaran-lembaran kertas dunia maya.

Mm.. Pernah suatu hari saya ngobrol bareng teman, keknya baru beberapa bulan lalu kali yak. Obrolan kita macam-macam. Ya biasalah, namanya juga obrolan ngalor-ngidul apa yang terlintas di otak ya itu yang keluar n' dibahas. Oiya, kebetulan saat itu bertepatan dengan hari kartini. Jadi ya kita (makhluk yang mewakili kaum lelaki) nyangkut ajeh langsung ngebahas masalah kartini.

"Wah mas, kemaren aku baca-baca di Swaramuslim.net, tentang sejarah kartini." Ujarku membuka percakapan. Nama teman saya Eka, cuman saya panggil di mas Eka. Ya soale umur kita jaraknya sekitar 10 tahunan. "Tentang apa mif?" Tanya dia balik. "Itu mas, kalo kita sering dengar-dengar tentang ide Kartini sehingga mencetuskan emansipasi buat wanita tuw mas." Jelasku berhenti sebentar, kemudian meneruskan lagi. "Kan habis gelap terbitlah terang" jelasku lagi. Mas Eka menganggukan kepalanya. "Trus?" Tanya dia. "Ternyata setelah aku baca-baca, oh iya...kan teks asli dari kata-kata Kartini itu berbahasa Belanda kalo ga salah yak?" Tanyaku. Mas Eka mengangguk. "Nah ternyata penerjemahan dari Belanda ke Indonesia itu salah. Jadi yang tadinya 'habis gelap terbitlah terang' ternyata terjemahan aslinya adalah 'dari kegelapan menuju cahaya'.." Mas Eka mengangguk-angguk. "Dan kalo mas Eka baca, ternyata sejarahnya itu kartini sedang giat-giatnya membaca al-Quran. Dimana pada saat itu dia terpesona dengan firman Allah swt. Yang berbunyi "Allahu waliyyu lladziina aamanuu... yukhrijuhum min adz-dzulumaati ila an-nuur...".

Mas Eka diem sebentar kemudian mengomentari apa yang saya uraikan. "Oo.. Jadi gitu?" Tanya mas Eka. Saya mengangguk. "Iya mif, saya juga yakin kalo bayangan Kartini saat dia mencetuskan ide yang oleh kaum wanita sekarang disebut sebagai "Emansipasi" itu ga seperti yang digembar-gemborkan oleh kaum perempuan saat ini." Jelas mas Eka. "Kalo menurut saya yang dituntut oleh Kartini saat itu adalah, agar hak pendidikan untuk kaum wanita pada zaman itu disamaratakan dengan hak pendidikan seperti pria." Sambungnya. "Di mana memang mungkin saat itu wanita tidak mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana pria. Bisa jadi maksud Kartini saat itu adalah untuk membentuk karakter wanita Indonesia yang mampu menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Mampu menjadi Madrasah pertama bagi anak-anaknya. sehingga kelak anak-anak yang dilahirkan di Indonesia ini mendapat pendidikan yang layak, baik pendidikan secara agama maupun ilmu pengetahuan umum. dari seorang ibu yang terdidik." Mas Eka diem sebentar. Saya coba mencerna apa yang baru saja dijelaskan olehnya. "Benar juga mas ya?" Ujar saya. "Iya mif, bisa jadi maksud Kartini itu ya seperti yang saya uraikan di atas. Wanita harus menuntut haknya untuk mendapatkan pendidikan, tapi hasil dari pendidikan yang didapat itu dimanifestasikan dengan mendidik generasi yang dilahirkan oleh wanita itu sendiri. Dengan kata lain. Wanita tidak melupakan kodratnya sebagai "Madrasah Awal" bagi putra-putrinya. Ga seperti wanita saat ini, yang hanya karena mengejar karir, sehingga lupa untuk memberi perhatian pada anak di rumah. Seolah anaknya ya anak si baby sitter." Jelas mas Eka menggebu-gebu. Saya mengangguk, tanda paham.

Agak lama kami berdua terdiam sambil menatap televisi di depan kami. Tapi saya yakin 'Our Mind' saat itu ga lagi mencerna apa yang ada di tv. Tapi pasti lagi melanglang buana entah kemana. Hehehe.

"Oh iya mas, aku juga pernah buka sebuah blog, entah punya siapa lupa. Di dalam blog itu dibahas tentang emansipasi juga. Yang jelas apa yang dibahas di postingan blog tersebut sedikit menggelitik pikiranku." Ujar saya. "Emang tentang apa mif?" Tanya mas Eka. "Anu mas, itu lho. Kan saat ini, alasannya karena perkembangan zaman. Maka wanita saat ini pun saling berpacu dengan lelaki untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan tidak jarang kaum wanita di banyak lapangan kerja. Mayoritas menduduki posisi yang seharusnya diduduki oleh kaum lelaki." Mas Eka terlihat fokus mendengarkan apa yang saya uraikan. "Nah lucunya, di blog ini yang dipermasalahkan bukan yang itu, tapi lebih ke masalah agama. Gini lho mas, kan kita tahu sendiri tentang posisi dan tanggung jawab seorang lelaki/suami dalam rumah tangga. Yaitu memberi nafkah buat istri dan anak-anaknya. Bahkan ga jarang ada ungkapan 'harta suami adalah harta bersama, harta istri harta pribadi'..." Saya berhenti sebentar kemudian menyambung penjelasan saya lagi. "Nah yang bikin otakku sedikit muter, adalah kesimpulan dari si penulis pada akhir postingannya yang aku ga hapal banget, tapi kira-kira bunyinya seperti ini. 'Jika memang zaman sudah menuntut wanita untuk bekerja. Dan atas kegigihan wanita itu sendiri sehingga ia menduduki posisi yang seharusnya diduduki oleh pria. Maka akan terjadi fenomena di mana lelaki sulit mendapat pekerjaan, dengan kata lain akan ada banyak kaum lelaki menganggur. Ini berarti menyulitkan posisi lelaki dalam mencari rezeki. Rezeki untuk membiayai orang-orang yang ada di belakang sang lelaki, yaitu orang-orang yang berada di bawah tanggungan lelaki sebagai suami, yaitu istri dan anak-anaknya'..." Sampai di situ saya menyudahi penjelasan saya. Mas Eka diem sebentar, seolah sedang memikirkan sesuatu. Namun tiba-tiba dia berkomentar. "Benar juga tuw isi blognya mif.." Komentar mas Eka, aku mengiyakan. Kamipun kembali terdiam, masing - masing kami kembali mengarahkan pandangan ke televisi.

"Tapi tergantung kaum lelakinya sih mif." Tiba-tiba mas Eka bicara. "Maksud mas Eka?" Tanyaku. "Ya maksud saya, masalah rezeki apa ngganya. Kita kan dah yakin bahwa pasti ada yang ngatur. Masalahnya gini jika seandainya pria ga dapat lapangan kerja karena wanita. Ya kurang tepat juga sih, masalah lapangan kerja itu kan tergantung prianya kreatif apa ngga? Jika memang prianya emang kreatif, toh ga keterima jadi karyawan bisa menjadi wiraswasta. Istilah lainnya ya membuka lapangan kerja sendiri. Ya ngga?" Tanya mas Eka, saya mengangguk. "Iya juga sih" fikir saya saat itu.


"Tapi ini mif, yang paling saya enek kalo ada wanita pendukung kesetaraan gender. Mereka fikir sekarang zaman reformasi, segala opini bisa diungkapkan. Yang paling bikin saya enek tu. Mereka menginginkan kesetaraan gender di segala bidang." Jelas mas Eka. Terlihat wajahnya sedikit serius. "Sampai suatu hari saya pernah naik bis kopaja. Ya saat itu keadaan bis lagi penuh, ga ada tempat duduk yang tersisa." Ujar mas Eka. "Saat itu saya duduk di kursi depan yang pas di dekat pintu keluar. Nah trus ga lama berselang, masuk dua orang penumpang cowok - cewek. Mungkin mereka berpacaran lah." Mas Eka diem sebentar kemudian lanjut lagi. "Nah karna ga ada tempat duduk, kan akhirnya mereka berdiri. Saya perhatikan tuw si cowok ngelihati saya terus, kebetulan mereka berdiri pas di samping saya. Tiba-tiba si cowok nyolek saya kemudian ngomong. 'Mas tolong dong bangkunya dipinjamin ke dia.' Kata cowok itu sambil menunjuk ceweknya ke saya. Ceweknya juga ngelihatin saya." Terang mas Eka. Saya asik fokus dengar cerita mas Eka. "Mau tau saya jawab apa mif?" Tanya mas Eka, "mas eka jawab apa?" Tanya saya balik ingin tahu. "Saya jawab santai saja ke dia, Lho mas tahu kan sekarang zaman reformasi? Wanita menyerukan emansipasi di segala bidang...lho kalo memang mau setara, seharusnya siap menerima segala resikonya. Lelaki biasa hidup keras, ya wanita juga harus merasakannya. Jelas saya ke cowok itu mif.." Terang mas Eka. "Trus? Cowok itu gimana mas?" Tanyaku. "Ya dia jawab, tapi kan mas, kasihan dia cewek...? Lho? justru itu, kalo memang dia mau setara dengan pria, ya harus siap menggantikan posisi pria dong..? Saya jawab santai mif...trus saya lanjutin lagi...Mas saya dulu tuw begitu hormat sama wanita karena kelemah-lembutannya...tapi sekarang hormat dan empati saya berkurang setelah ada gerakan persamaan gender yang diusung oleh sebagian wanita... dengan kata lain mereka merasa sama kuat dengan kaum pria... mereka ga pernah memikirkan perbedaan yang ada...ya sekarang terserah mereka, kalo memang merasa bisa menyamai pria ya monggo tapi yang pasti saya yakin banyak pria yang berubah dari empati menjadi sinis melihat kesombongan wanita yang merasa sama dengan pria saat ini... hehehe, saya ngomong gitu mif ke cowok itu, saya peratiin cowok ma cewek itu mukanya cemberut.. hehehe." Jelas mas Eka sambil ngekeh. "Wah masa sih mas?" Tanyaku ga percaya. "Iya mif bener, mana saat itu kan bis lagi penuh, jadi banyak yang dengerin saya waktu itu.." Terang mas Eka. "Weks, busyet deh, mas Eka berani juga yak?" Lanjutku lagi, "ya iya, ngapain mesti malu." Tiba-tiba di luar mulai hujan rintik-rintik. Saya segera bergegas berlari keluar mengambil pakaian yang saya jemur dari pagi.

Obrolan kami di atas, lumayan berat. Tapi ya dibahas dengan ringan. Hehehe, mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa terganggu, terus terang postingan ini hanya sebuah wacana pemikiran wong ndeso.... yang ga bisa lepas dari kesalahan. Jadi kalo ada kesalahan kata, mohon dimaafkan banget. yah.. lumayan isi-isi waktu sambil lebih mengkreatifkan otak dalam berfikir, lagipula melatih jari-jemari menari luwes di atas keyboard.. thengs e lots for Allah.

Saya tutup postingan ini dengan menulis 'Alhamdulillaahi Robbil Aalamiin'
Share:

Phoem Boring

Kurindukan sejuknya embun membelai lembut jiwaku
Kumelayang bersama cita menembus indah panorama
Terbelai lembut ku oleh indah permadani pelangi
Terpias wajahku menatap indah dirimu

Berbaur dan membiaskan keindahan di hatiku
Dalam hari-hariku senyummu terukir berikan satu karya berarti
Lukiskan kenangan yang tak tersiakan
Kulestarikan semua sebagai karya fenomenal
Di Sepanjang keagungan Tuhan
Yang terpampang di sanubariku

Berharap maut tak kan' hentikannya
Dan berdo'a kelak syurga sebagai penghujungnya
Share:

Cintah... oppooo cintah?

Cinta. Nyerah deh kalo dah nemu kata itu. Yang ada juga nih hati kelepek-kelepek. "Emang situ tau, cinta tu apa?". "Eh om, nanya sapa?"."lah situ ngapain ngomong cinta?". "Ya mau aja, emang ga boleh ngomong cinta?". "Weks! kok balik nanya sih?". "Lho? Emang yg nanya sapa?". "Ya situ". "Emang situ, itu apa om?"."###@$%@#". (whehehe)


Seperti paragraf di atas itulah mungkin penggambaran sederhana tentang kebingungan sebagian orang mendesinfektankan cinta.... eh sori.. maksute deskriditkan, busyet deh salah lagi...deskripsikan maksute, soal definisi cinta. Kok gitu? Emang sapa yang bilang? Yg bilang ya mbahmu. Punten om. Maksute begini lho... setiap orang tuw kan punya kepala. nah, tentunya setiap isi kepala itu kan memiliki otak, yang fungsinya membaca sensor dari lingkungan sekitarnya, kemudian mengubahnya menjadi molekul sinyal-sinyal listrik yg fungsinya untuk mempola dan mengubah sinyal listrik menjadi informasi yg digunakan oleh manusia untuk membuat opini. Lah opini setiap orang berbeda-beda om. Begitu juga opini saya... Namun tentunya saya beropini sesuai dengan apa yg otak saya pelajari dan coba pahami. So? bukan opini buta om. key?

Oke deh... supaya bisa lebih asyik memahami apa itu cintah, kita tanya dulu deh ama yg ahoy (ahli,Pen.) di bidangnya.


DeFisini (Definisi, maksute) Cintah

Kalo nanya ama om wiki nih. Cinta adalah sebuah perasaan yang dirasakan oleh seseorang terhadap orang lain. Yaitu perasaan untuk saling berbagi segala sesuatunya secara bersama. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. But, itu menurut om wiki lho. Kalo menurut saya lain lagi. "Emang menurut situ cinta itu apa?". "Mmm.. kalo menurut saya, cinta itu ya... tergantung pendapat orang yang merasakannya". "Lah, itu mah ga creative". "ga papa, wong pendapat, pendapat saya" (whehehe) udah..udah.. nih kita bahas.

Tapi sebelum saya ketengahkan tuw cinta, saya mohon maaf kalo ternyata kesalahan bertumpuk pada pembahasan ini, karena bagaimanapun posting ini hanya sekedar pendapat subjektif dari saya.

Menurut hemat saya, biar lebih simple cinta itu bisa dibagi dalam 3 kelas. Yaitu, kelas ringan, kelas menengah and kelas berat (weh macam boxing saja yak? :p)

Cinta Ringan

Mungkin kalo dalam peribahasa bisa diumpamakan ama cinta monyet, cinta laler, cinta ayam ato cinta binatang lainnya kali yak? :)) Soale ya itu tadi, cintanya kan hanya hayalan-hayalan fana yang berkelabat sekilas doang, bisa jadi timbul karena terhipnotis shape lawan jenis secara fisik. Sayangnya cinta seperti ini hanya melatih otak untuk berfikir antara perut, puser ke bawah, sehingga ... ya itu tadi cinta like animal, ato dengan kata lain, cintanya ringan banget ga berbobot...

Cinta In Medium (whehe.. bahasane irregular je)
:))

Jenis cinta ini, kalo diliat dari sudut pandang om wiki, udah masuk banget. Cinta pada level ini si pelakune wis ngerti akan diarahkan kemana perasaan yang dia pikul (weks, emang karung!). Yang jelas keinginan untuk berbagi tuw dah terpola di dalam imaginasi perasaannya. Keinginan untuk melihat pasangannya slalu tersenyum, bahagia, ceria de - el - el. Meski levelnya baru pertengahan but, cinta pada level ini udah bisa membuat seseorang melakukan apasaja agar terwujud keinginannya. Namun sayang, cinta pada level ini memiliki kelemahan yang cukup tragis. (apa tu om?):surprise Pingin tau? Oke deh gini aja. Situ pernah liat tayangan kriminal di televisi ga? Macam buser ato apalah nicknya. (mmm.. pernah om) Nah itu die!! Situ pernah liat berita tentang pemuda yang bunuh diri lantaran cintanya ditolak ga? Ato bahkan membunuh pasangannya karena menolak cintanya? (wah iya om!!) nah itulah kelemahan dari cinta pada level ini. Hehehe.. :D Situ ngerti kan maksud ane? (waduh.!! kaga om) Busyet dah... masa kaga ngarti sih...? (geleng2) Oke deh.. simple nya gini. Pada level medium ini, cinta belum dipoles dengan spiritual skill.
(wah!! apaan tu om?) Spiritual skill tu adalah kemampuan memahami bahwa segala sesuatu yang mengalir dan berlaku di dimensi ruang dan waktu ini ada Sang Pengaturnya. (ooo.. ) Ngerti ente? (Iya om) Apa? (Berhubungan dengan agama tho?) Wah tumben ente nangkep. Yoi, maksudnya pada level ini cinta belum diamplas dengan pengetahuan agama. Bisanya hanya berbagi namun ga memperhitungkan tindakan apa yang akan diambil jika sekiranya keinginannya tak terwujud. :D wheheh macam ahli aja situ?

Cinta in Heavy (ck..ck..ck ehem2 :x )

Nah ini die... katanya mbah wiki tuw, heavy artinya berat. Nah sesuai dengan kelasnya, pada level ini tuw cintanya wis tinggi. Kalo mau, level ini bisa diklasikifasi
(klasifikasi om..) Ya itu maksud saya. Pendeskripsiannya yaitu : Cinta pada sang Pencipta (Allah), Rasul - Nya, Orang tua, baru kekasih :x. Nah jika sekiranya seseorang dah mengemban level cinta macam gini. Wuih... perfect banget. Jalan menanjak dianggap turunan, batu karang terasa bak setumpuk kapas. (Maksute apa om? kok rada binun nih) ah dasar situ, maksute tuw apapun resiko yang dihadapi pasti si pelaku dapat menemukan solusi ato jalan keluar, apapun itu. InsyaAllah ada jalan keluarnya... hfff...

Namun pada level ini pun ternyata masih ada kekurangannya (Wah!! masa sih om) iya... (apa tuw om?) Susah dapetinnya :D whehehe... (ah itu mah bukan resiko, itu konskwensinya) ya sama aja... (ya ga sama dong om...) ah udah ah ribet lu!! ini nih.. ngomong2 soal cinta, ane punya pengalaman yang asik lho... mo denger ga ente? (wah boleh deh om...;)) oke deh...
Share: